DWJ Manajement - PORTAL

Kenapa Penerbangan Dihentikan Saat Erupsi Gunung Anak Krakatau?

Oleh: DWJ-Manajement • 06 Sep 2026
Kenapa Penerbangan Dihentikan Saat Erupsi Gunung Anak Krakatau?

Dalam menghadapi situasi ini, otoritas penerbangan Indonesia bekerja sama dengan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) serta PVAT (Volcanic Ash Advisory Center) untuk memantau pergerakan abu secara real-time. Pemantauan ini menggunakan teknologi radar dan satelit untuk memetakan arah sebaran abu agar dapat memberikan peringatan dini kepada maskapai.

Beberapa langkah yang diambil oleh otoritas meliputi:

Penerbitan NOTAM (Notice to Airmen): Pemberitahuan resmi kepada seluruh pilot mengenai area yang dilarang untuk dilewati karena adanya aktivitas vulkanik.

Pengalihan Rute (Rerouting): Maskapai akan mencari jalur alternatif yang berada di luar zona sebaran abu, meskipun hal ini seringkali berdampak pada konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi dan waktu tempuh yang lebih lama.

Penundaan dan Pembatalan Jadwal: Langkah terakhir untuk menjamin keamanan total ketika risiko dianggap terlalu tinggi untuk dihindari melalui pengalihan rute.

Kondisi di bandara-bandara yang terdampak, termasuk Soekarno-Hatta, saat ini terus dipantau secara ketat. Para pengguna jasa penerbangan dihimbau untuk selalu mengecek status penerbangan mereka melalui kanal resmi maskapai atau pengelola bandara sebelum menuju ke lokasi.

Kesimpulan

Penutupan delapan bandara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan langkah krusial yang diambil demi menjamin keselamatan nyawa manusia. Ancaman abu vulkanik bukan sekadar debu biasa, melainkan material kaca yang dapat melumpuhkan mesin jet, mengacaukan instrumen navigasi, hingga membahayakan kesehatan pernapasan. Sinergi antara pengawasan vulkanik dan regulasi penerbangan menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko kecelakaan udara di tengah aktivitas tektonik yang tidak menentu.