DWJ Manajement - PORTAL

Kenapa Sumatra Masih Sering Hujan? Ini Penjelasan BMKG

Oleh: DWJ-Manajement 19 Aug 2026
Kenapa Sumatra Masih Sering Hujan? Ini Penjelasan BMKG

Pemicu Konveksi: Kehadiran fase basah MJO meningkatkan aktivitas konveksi (pergerakan udara naik). Udara yang naik ini membawa uap air ke atmosfer yang lebih tinggi, mendingin, dan akhirnya terkondensasi menjadi awan hujan yang tebal.

Siklus Periodik: MJO memiliki siklus yang tidak tetap, namun kehadirannya dapat menyebabkan periode hujan yang lebih panjang meskipun secara kalender kita sedang berada di musim kemarau.

BMKG mencatat bahwa ketika fase MJO berada di wilayah Indonesia bagian barat, Sumatra akan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh peningkatan curah hujan ini. Hal inilah yang menjelaskan mengapa hujan bisa turun dengan deras di tengah musim yang seharusnya kering.

Pengaruh Gelombang Kelvin dalam Atmosfer

Selain MJO, BMKG juga menyoroti peran Gelombang Kelvin dalam dinamika cuaca di Sumatra. Dalam konteks meteorologi tropis, Gelombang Kelvin adalah gelombang atmosfer yang bergerak ke arah timur dengan kecepatan tinggi dan memiliki pengaruh besar terhadap pola sirkulasi udara.

Gelombang ini mampu memengaruhi tekanan udara dan suhu permukaan laut di sekitar wilayah Indonesia. Ketika gelombang ini berinteraksi dengan kondisi lokal, ia dapat memperkuat pembentukan awan kumulonimbus yang menjadi sumber hujan lebat. Interaksi antara Gelombang Kelvin dengan pola angin lokal di Sumatra sering kali menciptakan ketidakstabilan atmosfer yang signifikan, sehingga hujan tidak hanya turun secara ringan, tetapi sering kali disertai dengan kilat dan angin kencang.

Peran Topografi Bukit Barisan

Selain faktor atmosfer global seperti MJO dan Gelombang Kelvin, faktor geografis atau topografi lokal tidak boleh diabaikan. Pulau Sumatra memiliki rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari utara hingga selatan. Bentang alam ini memberikan kontribusi terhadap fenomena yang disebut sebagai hujan orografis.

Hujan orografis terjadi ketika massa udara yang membawa uap air dipaksa naik oleh lereng pegunungan. Saat udara naik, ia mengalami pendinginan adiabatik, yang menyebabkan uap air mengembun menjadi hujan. Oleh karena itu, wilayah-wilayah di sekitar lereng Bukit Barisan sering kali menerima curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah pesisir yang landai, meskipun dalam kondisi musim kemarau.

Mengapa El Nino Tidak Menghentikan Hujan di Sumatra?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: "Jika El Nino menyebabkan kekeringan, mengapa Sumatra tetap basah?" Jawabannya terletak pada kompleksitas interaksi antar-fenomena. Meskipun El Nino mencoba menekan pembentukan awan di sebagian besar Indonesia melalui penurunan suhu muka laut di Pasifik, faktor-faktor seperti MJO yang sangat aktif di Samudera Hindia dapat memberikan suplai kelembapan yang cukup besar ke wilayah barat Indonesia.

Dalam kondisi ini, terjadi semacam "pertarungan" antara pengaruh kering El Nino dengan pengaruh basah dari MJO dan Gelombang Kelvin. Di Sumatra, pengaruh kelembapan dari arah Samudera Hindia sering kali lebih dominan dibandingkan pengaruh kering dari Samudera Pasifik, sehingga hujan tetap dapat terjadi secara rutin.