Kenyataan ini menempatkan Meta, perusahaan induk Instagram, dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka harus membuktikan kepada pemerintah bahwa mereka peduli pada keselamatan remaja, namun di sisi lain, data menunjukkan bahwa alat yang mereka sediakan tidak memberikan dampak signifikan pada perubahan perilaku pengguna.
Bantahan Terhadap Tuduhan Pengaturan 'Default'
Selain masalah efektivitas fitur, Mosseri juga memberikan pembelaan keras terhadap tuduhan yang dialamatkan kepada Instagram terkait pengaturan keamanan. Selama ini, banyak kritikus dan pihak regulator menuduh bahwa Instagram tidak mengaktifkan fitur-fitur perlindungan secara otomatis (default) bagi pengguna di bawah umur, sehingga memaksa orang tua atau remaja untuk mencarinya secara manual.
Mosseri secara tegas membantah klaim tersebut. Ia menyatakan bahwa Instagram telah berkomitmen untuk memastikan bahwa fitur-fitur keamanan dasar telah diatur sedemikian rupa untuk melindungi akun remaja sejak pertama kali mereka bergabung dalam platform. Menurutnya, tuduhan bahwa perusahaan sengaja membiarkan akun remaja tanpa proteksi adalah sebuah miskonsepsi.
Ia menjelaskan bahwa Meta terus melakukan penyesuaian pada kebijakan privasi dan keamanan untuk memastikan perlindungan yang lebih ketat. Namun, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menyeimbangkan antara privasi pengguna, pengalaman pengguna yang mulus, dan tingkat keamanan yang optimal tanpa mengganggu fungsionalitas utama aplikasi.
Mengapa Remaja Enggan Mengambil Jeda?
Para ahli perilaku digital menanggapi kesaksian Mosseri dengan pandangan yang beragam. Mengapa sebuah fitur yang secara eksplisit ditujukan untuk kesejahteraan pengguna justru diabaikan oleh kelompok yang paling rentan?
Beberapa faktor psikologis yang diidentifikasi oleh para pakar meliputi:
1. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)
Ketakutan akan tertinggal informasi atau tren terbaru merupakan penggerak utama penggunaan media sosial di kalangan remaja. Mengambil jeda berarti melepaskan diri dari arus informasi yang sangat cepat, yang bagi banyak remaja dirasakan sebagai risiko sosial yang besar.
2. Desain Algoritma yang Adiktif