DWJ Manajement - PORTAL

- Kisah Boeing 747 Terbang Tanpa Mesin Usai Terjang Abu Vulkanik

Oleh: DWJ-Manajement • 07 Sep 2026
- Kisah Boeing 747 Terbang Tanpa Mesin Usai Terjang Abu Vulkanik

Melting (Pelelehan): Partikel kaca dan batuan dalam abu vulkanik mencair seketika saat menyentuh ruang pembakaran yang sangat panas.

Vitrification (Pengerasan): Setelah mencair, cairan silika ini akan menempel pada bilah-bilah turbin (turbine blades) yang sedang berputar dengan kecepatan sangat tinggi.

Coating (Pelapisan): Cairan yang mendingin tersebut akan mengeras kembali menjadi lapisan kaca yang sangat keras di permukaan bilah turbin.

Airflow Blockage (Penyumbatan Aliran Udara): Lapisan kaca ini mengubah profil aerodinamika bilah turbin, menghambat aliran udara, dan pada akhirnya menyebabkan mesin kehilangan kemampuan untuk menjaga pembakaran tetap stabil, yang berujung pada mati totalnya mesin.

Selain merusak komponen internal, sifat abrasif dari abu ini juga dapat mengikis bagian-bagian sensitif mesin, menyebabkan kerusakan mekanis yang permanen bahkan sebelum mesin sempat mati.

Bahaya Tersembunyi dan Dampak Bagi Penerbangan Dunia

Melihat fenomena ini, pakar penerbangan memberikan peringatan keras mengenai risiko yang selalu mengintai di sekitar wilayah gunung berapi aktif. Daryono, seorang pengamat dan praktisi yang memahami dinamika risiko penerbangan, menjelaskan bahwa abu vulkanik adalah ancaman "silent killer" dalam dunia aviasi.

Menurut penjelasannya, bahaya abu vulkanik tidak hanya terbatas pada kerusakan mesin secara langsung. Ada dampak sistemik yang jauh lebih luas yang harus diperhitungkan oleh maskapai dan otoritas penerbangan. Abu vulkanik dapat mengganggu sistem navigasi, merusak sensor pitot (sensor kecepatan udara), dan bahkan mengurangi jarak pandang pilot secara drastis dalam hitungan detik.

Daryono menekankan bahwa dampak dari aktivitas vulkanik ini bisa menyebabkan gangguan jadwal penerbangan secara massal di satu kawasan. Ketika sebuah gunung berapi menunjukkan tanda-tanda erupsi, area ruang udara di sekitarnya biasanya akan langsung dinyatakan sebagai zona terlarang (no-fly zone). Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian sebaran abu yang bisa terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari pusat erupsi.

Dampaknya meliputi:

Pembatalan Massal: Maskapai harus membatalkan ratusan penerbangan untuk menghindari risiko keselamatan.