DWJ Manajement - PORTAL

Kredit Nganggur Tembus Rp 2.548 Triliun, Bos BI Ungkap Biang Keroknya

Oleh: DWJ-Manajement 24 Sep 2026
Kredit Nganggur Tembus Rp 2.548 Triliun, Bos BI Ungkap Biang Keroknya

Salah satu faktor utama adalah kebijakan moneter yang ketat. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga acuan pada level yang cukup tinggi. Tingginya suku bunga BI secara otomatis akan berdampak pada suku bunga kredit perbankan.

Ketika suku bunga kredit melonjak, pelaku usaha cenderung berpikir dua kali untuk menarik dana tersebut. Biaya pinjaman yang mahal membuat proyek-proyek ekspansi yang sebelumnya dianggap layak secara finansial, kini menjadi kurang menguntungkan. Akibatnya, debitur lebih memilih untuk memegang kas mereka atau menunda investasi hingga kondisi suku bunga melandai.

2. Sikap Wait and See Akibat Ketidakpastian Global

Dinamika geopolitik dunia, seperti konflik di Timur Tengah dan ketegangan perdagangan global, menciptakan atmosfer ketidakpastian yang tinggi. Para pelaku bisnis, terutama sektor manufaktur dan komoditas, kini lebih mengedepankan prinsip kehati-hatian atau prudent.

Banyak korporasi besar yang sebenarnya sudah memiliki komitmen kredit dengan bank, namun mereka menahan pencairan dana tersebut. Mereka menunggu hingga arah kebijakan ekonomi global—terutama kebijakan suku bunga The Fed (Bank Sentral AS)—menjadi lebih jelas. Ketidakpastian ini membuat kapasitas serap kredit menjadi terhambat meskipun likuiditas perbankan sebenarnya mencukupi.

3. Pengetatan Standar Kredit oleh Perbankan

Selain dari sisi debitur, sisi perbankan juga memainkan peran penting. Menghadapi risiko kredit macet (NPL) yang mungkin meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi, bank-bank cenderung memperketat kriteria penyaluran kredit. Meskipun plafon sudah disetujui, bank seringkali menerapkan syarat-syarat tambahan atau persyaratan dokumentasi yang lebih ketat sebelum dana benar-benar bisa dicairkan.

4. Pergeseran Prioritas Pengelolaan Kas Perusahaan

Pasca pandemi, banyak perusahaan mengubah strategi manajemen keuangan mereka. Perusahaan kini lebih fokus pada menjaga tingkat likuiditas internal yang kuat dan meminimalkan utang berbunga tinggi. Hal ini menyebabkan fasilitas kredit yang sudah disiapkan hanya digunakan sebagai "jaring pengaman" (safety net) belaka, bukan sebagai mesin utama pertumbuhan bisnis mereka.

Dampak Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Penumpukan kredit nganggur sebesar Rp 2.548 triliun ini memiliki implikasi yang cukup serius terhadap target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berikut adalah beberapa dampak yang perlu diwaspadai: