Pengamat AI, Alva Erwin, memberikan pandangan optimis terkait situasi ini. Menurutnya, perlambatan laju AI global justru bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi mulai membangun kemandirian digital.
Selama ini, teknologi AI yang tersedia secara global cenderung bersifat "Western-centric" atau sangat condong pada budaya dan bahasa Barat. Hal ini sering kali menimbulkan kendala ketika diterapkan dalam konteks lokal Indonesia yang memiliki keberagaman bahasa daerah, norma budaya, dan struktur sosial yang unik.
1. Pengembangan Model Berbasis Konteks Lokal
Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan AI yang memahami nuansa lokal. Ini bukan hanya soal menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, tetapi memahami dialek, slang, hingga konteks budaya yang ada di nusantara. Pengembangan LLM yang khusus dilatih dengan data lokal akan memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki oleh model global. Hal ini sangat krusial untuk sektor-sektor seperti layanan pelanggan, pendidikan, dan administrasi publik yang membutuhkan pemahaman kontekstual yang mendalam.
2. Pemanfaatan AI untuk Sektor Vertikal
Daripada mencoba membangun AI umum yang mencoba melakukan segalanya, Indonesia bisa fokus pada pengembangan AI untuk sektor-sektor vertikal yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Beberapa sektor tersebut antara lain:
Pertanian (Agrotech): AI untuk prediksi cuaca, optimasi panen, dan deteksi hama yang spesifik untuk tanaman tropis.
Finansial (Fintech): Sistem penilaian kredit (credit scoring) yang lebih inklusif bagi masyarakat yang belum tersentuh perbankan (unbanked).
Kesehatan (Healthtech): Asisten diagnostik yang disesuaikan dengan profil epidemiologi dan data kesehatan masyarakat Indonesia.
Logistik: Optimasi rantai pasok di negara kepulauan yang memiliki tantangan geografis unik.
Literasi AI: Pondasi Utama Menghadapi Disrupsi
Namun, infrastruktur teknologi dan pengembangan produk lokal tidak akan berarti banyak tanpa didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Alva Erwin menekankan bahwa literasi AI adalah kunci utama agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi asing.