DWJ Manajement - PORTAL

Likuiditas Perbankan Masih Ketat, Pertumbuhan Kredit Belum Merata

Oleh: DWJ-Manajement 03 Sep 2026
Likuiditas Perbankan Masih Ketat, Pertumbuhan Kredit Belum Merata

Kredit Tumbuh 13,58 Persen, Ekonom Ingatkan Ancaman Likuiditas Perbankan yang Masih Ketat

Pertumbuhan kredit dinilai belum merata dan masih didominasi oleh sektor korporasi, memicu kekhawatiran akan daya serap ekonomi di tingkat UMKM dan konsumsi rumah tangga.

Sektor perbankan nasional saat ini tengah berada dalam situasi yang penuh paradoks. Di satu sisi, data menunjukkan pertumbuhan penyaluran kredit yang cukup impresif, namun di sisi lain, para pelaku pasar dan ekonom mulai menyuarakan kekhawatiran terkait ketatnya likuiditas yang membayangi industri keuangan. Meskipun angka pertumbuhan kredit mencatatkan angka 13,58 persen, dinamika di balik angka tersebut menunjukkan adanya ketimpangan yang signifikan dalam distribusi modal ke berbagai sektor ekonomi.

Paradoks Pertumbuhan Kredit di Tengah Ketatnya Likuiditas

Secara sekilas, angka pertumbuhan kredit sebesar 13,58 persen memberikan sinyal positif bagi optimisme ekonomi nasional. Angka ini menunjukkan bahwa kapasitas perbankan dalam menyalurkan modal masih cukup kuat untuk mendukung aktivitas ekonomi. Namun, para ekonom memperingatkan agar publik tidak hanya terpaku pada angka agregat tersebut. Tantangan utama yang muncul bukanlah pada kemampuan bank untuk meminjamkan uang, melainkan pada ketersediaan dana murah yang tersedia untuk disalurkan.

Likuiditas perbankan yang ketat menjadi isu krusial. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya dana atau Cost of Fund (CoF) yang harus ditanggung oleh bank. Ketika perbankan harus bersaing ketat untuk mendapatkan Dana Pihak Ketiga (DPK), terutama dalam bentuk deposito, maka suku bunga simpanan cenderung naik. Kenaikan suku bunga simpanan ini secara otomatis akan menekan margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) perbankan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan bank dalam memberikan suku bunga kredit yang kompetitif bagi nasabah.

Fenomena ini menciptakan situasi di mana bank menjadi lebih selektif dalam memilih debitur. Dalam kondisi likuiditas yang terbatas, bank cenderung akan melakukan manajemen risiko yang lebih ketat, yang seringkali berujung pada penyempitan target pasar kredit ke segmen-segmen yang dianggap paling aman dan paling menguntungkan.

Faktor Penyebab Ketatnya Likuiditas Perbankan

Ada beberapa faktor fundamental yang menyebabkan kondisi likuiditas perbankan saat ini terasa semakin menantang:

Persaingan Perebutan Dana Pihak Ketiga (DPK): Perbankan kini menghadapi persaingan ketat tidak hanya dari sesama bank, tetapi juga dari instrumen investasi lain seperti Surat Berharga Negara (SBN) yang menawarkan imbal hasil menarik di tengah tren suku bunga tinggi.

Kebijakan Moneter yang Ketat: Kebijakan suku bunga acuan yang dijaga pada level tertentu untuk mengendalikan inflasi berdampak langsung pada biaya dana perbankan.

Shift in Investor Preference: Terjadi pergeseran preferensi investor yang lebih memilih instrumen pasar uang atau obligasi pemerintah dibandingkan menempatkan dana di tabungan atau deposito konvensional.

Kebutuhan Modal Korporasi: Meningkatnya permintaan pendanaan dari sektor korporasi besar untuk ekspansi bisnis turut menyedot porsi likuiditas yang tersedia di pasar.