DWJ Manajement - PORTAL

Literasi Keuangan Digital-Syariah Masuk Jadi Kurikulum Pelajaran Sekolah

Oleh: DWJ-Manajement 24 Sep 2026
Literasi Keuangan Digital-Syariah Masuk Jadi Kurikulum Pelajaran Sekolah

Keamanan Data Pribadi: Edukasi mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan PIN, password, dan menghindari praktik phishing atau pencurian data dalam transaksi digital.

Pengenalan Ekonomi Syariah: Memahami prinsip dasar keuangan syariah seperti konsep bagi hasil (mudharabah), menghindari riba, serta etika bertransaksi yang sesuai dengan prinsip syariat.

Analisis Risiko: Memberikan simulasi mengenai dampak buruk dari penggunaan pinjaman online yang tidak terkendali dan bahaya laten judi online.

Penyampaian materi ini diharapkan tidak hanya bersifat teoretis di dalam kelas, tetapi juga melalui metode pembelajaran berbasis proyek atau studi kasus yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Mengapa Keuangan Syariah Menjadi Komponen Penting?

Keputusan untuk memasukkan literasi keuangan syariah ke dalam kurikulum merupakan langkah visioner. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi syariah global. Namun, potensi ini tidak akan maksimal jika masyarakatnya—terutama generasi mendatang—tidak memahami esensi dari sistem keuangan tersebut.

Literasi keuangan syariah bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keadilan, transparansi, dan keberlanjutan dalam bertransaksi. Dengan memahami bahwa ekonomi syariah mengedepankan prinsip bagi hasil dan menghindari praktik eksploitatif, diharapkan akan lahir generasi pengusaha dan pelaku ekonomi yang memiliki integritas moral tinggi.

Selain itu, pemahaman mengenai keuangan syariah juga dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui penguatan sektor industri halal dan perbankan syariah yang cenderung lebih stabil dalam menghadapi fluktuasi ekonomi global karena basis aset yang nyata dan prinsip berbagi risiko.

Kolaborasi OJK dan Kemendikdasmen: Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara regulator keuangan dan otoritas pendidikan. OJK berperan sebagai penyedia konten ahli dan materi edukasi yang mutakhir, sementara Kemendikdasmen bertanggung jawab dalam mengintegrasikan materi tersebut ke dalam struktur kurikulum yang ada tanpa membebani beban belajar siswa secara berlebihan.

Para guru juga akan mendapatkan pelatihan khusus agar memiliki kompetensi yang cukup dalam menyampaikan materi keuangan ini. Hal ini penting agar informasi yang sampai kepada siswa bersifat akurat, objektif, dan tidak ketinggalan zaman mengingat dunia keuangan digital bergerak sangat cepat.

Implementasi ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak hanya diukur dari kemampuan kognitif dan teknis, tetapi juga dari kecakapan hidup (life skills), termasuk kecakapan finansial yang mumpuni.