DWJ Manajement - PORTAL

LRT Jakarta ke Dukuh Atas Butuh Rp 2,7 T, Pramono: Bisa dari Obligasi-Danantara

Oleh: DWJ-Manajement 16 Sep 2026
LRT Jakarta ke Dukuh Atas Butuh Rp 2,7 T, Pramono: Bisa dari Obligasi-Danantara

Rencana Perpanjangan Jalur LRT Jakarta ke Dukuh Atas Butuh Rp 2,7 Triliun, Pramono Anung Usulkan Skema Obligasi hingga Danantara

JAKARTA - Ambisi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menciptakan sistem transportasi terintegrasi yang mulus semakin nyata. Salah satu proyek strategis yang kini tengah menjadi sorotan adalah rencana perpanjangan jalur Light Rail Transit (LRT) Jakarta. Proyek ini direncanakan akan menyambungkan rute eksisting dari Stasiun Manggari menuju kawasan pusat bisnis dan transit Dukuh Atas.

Namun, proyek besar ini tidak datang tanpa tantangan. Estimasi biaya yang dibutuhkan untuk merealisasikan perpanjangan jalur ini mencapai angka fantastis, yakni Rp 2,7 triliun. Menanggapi besarnya kebutuhan anggaran tersebut, tokoh politik sekaligus calon pemimpin Jakarta, Pramono Anung, memberikan pandangannya mengenai skema pendanaan yang bisa diambil agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara berlebihan.

Menghubungkan Simpul Transportasi Utama Jakarta

Perpanjangan jalur LRT Jakarta dari Manggari ke Dukuh Atas bukan sekadar proyek penambahan rel semata. Ini adalah langkah krusial untuk menyempurnakan ekosistem Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta. Kawasan Dukuh Atas telah lama dikenal sebagai jantung dari integrasi transportasi di ibu kota, di mana terdapat pertemuan antara KRL Commuter Line, MRT Jakarta, TransJakarta, dan layanan kereta bandara.

Dengan menyambungkan LRT Jakarta ke titik ini, mobilitas warga dari wilayah Jakarta Timur dan sekitarnya menuju pusat kota akan menjadi jauh lebih efisien. Pengguna transportasi umum tidak perlu lagi melakukan transit yang memakan waktu lama atau berpindah moda dengan jarak jalan kaki yang jauh. Integrasi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, yang pada akhirnya akan berdampak pada penurunan tingkat kemacetan dan polusi udara di Jakarta.

Proyek ini mencakup beberapa aspek teknis yang kompleks, di antaranya:

Pembangunan infrastruktur rel baru yang melintasi kawasan padat penduduk.

Pembangunan stasiun-stasiun baru dengan fasilitas integrasi antar moda yang modern.

Pengadaan sarana kereta (rolling stock) tambahan untuk mendukung frekuensi perjalanan.