DWJ Manajement - PORTAL

Menelisik Sejarah Erupsi Anak Krakatau, Gunung Unik di Selat Sunda

Oleh: DWJ-Manajement • 07 Sep 2026
Menelisik Sejarah Erupsi Anak Krakatau, Gunung Unik di Selat Sunda

Menelisik Sejarah Erupsi Anak Krakatau: Dari Tragedi 1883 hingga Ancaman Tsunami di Selat Sunda

Selat Sunda kembali mencekam. Erupsi terbaru yang terjadi pada 4-5 September 2026 telah kembali mengingatkan masyarakat dunia akan kekuatan destruktif yang tersimpan di balik keindahan gugusan pulau di wilayah tersebut.

Gemuruh suara ledakan dan kepulan abu vulkanik yang membumbung tinggi ke atmosfer bukan sekadar fenomena alam biasa. Bagi Indonesia, ini adalah pengingat sejarah yang kelam sekaligus peringatan akan potensi bahaya yang terus mengintai. Anak Krakatau, sang "anak" dari gunung legendaris yang pernah mengguncang dunia, kini kembali menunjukkan taringnya.

Mengenang Tragedi 1883: Saat Dunia Terguncang

Untuk memahami mengapa erupsi Anak Krakatau pada September 2026 ini begitu diperhatikan secara internasional, kita harus memutar kembali jarum jam ke tahun 1883. Kala itu, Gunung Krakatau (induk dari Anak Krakatau) mengalami salah satu letusan paling dahsyat dalam sejarah modern manusia.

Letusan tahun 1883 bukan hanya sekadar letusan gunung api biasa. Dampaknya bersifat global. Berikut adalah beberapa fakta mengerikan dari peristiwa tersebut:

Suara Terkeras di Bumi: Letusan ini menghasilkan suara ledakan yang terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya, bahkan sampai ke Australia dan pulau-pulau di Samudra Hindia.

Tsunami Raksasa: Runtuhnya tubuh gunung ke dalam laut memicu tsunami setinggi 40 meter yang menyapu pesisir Banten dan Lampung, merenggut puluhan ribu nyawa dalam sekejap.

Perubahan Iklim Global: Material abu yang dilemparkan ke stratosfer menutupi sinar matahari, menyebabkan suhu global turun drastis selama beberapa tahun setelah kejadian.

Korban Jiwa: Diperkirakan lebih dari 36.000 orang tewas akibat kombinasi ledakan, aliran piroklastik, dan tsunami.

Kehancuran total pada tahun 1883 tersebut membuat sebagian besar tubuh Krakatau tenggelam di bawah permukaan laut, meninggalkan sebuah kaldera raksasa yang sunyi selama puluhan tahun.