Peningkatan Suhu Permukaan: Suhu yang lebih panas meningkatkan energi panas yang tersedia untuk memicu penyalaan api, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia.
Angin Kencang: Pola angin selama El Nino dapat membantu penyebaran api dengan lebih cepat dari satu titik ke titik lainnya.
Langkah Strategis dan Sinergi Antar-Lembaga
Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Menko Polkam menekankan pentingnya koordinasi lintas sektoral untuk memastikan penanganan Karhutla dilakukan secara cepat, tepat, dan terintegrasi. Pemerintah telah menyusun skema penanganan mulai dari tahap pencegahan, deteksi dini, hingga pemadaman.
Pemerintah melibatkan berbagai instansi kunci, di antaranya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI dan Polri. Sinergi ini bertujuan agar tidak ada tumpang tindih kewenangan dalam penanganan di lapangan.
“Kita sudah instruksikan seluruh jajaran di daerah, baik Pemprov maupun Pemkab, untuk memperkuat sistem peringatan dini. Jangan menunggu api membesar baru bergerak. Deteksi dini melalui satelit dan patroli darat harus ditingkatkan secara masif,” tegas Djamari.
Fokus Utama Penanganan Pemerintah
Dalam upaya memitigasi dampak buruk El Nino, pemerintah telah menetapkan beberapa fokus utama yang menjadi prioritas dalam beberapa bulan ke depan:
Penguatan Sistem Monitoring Satelit: Mengoptimalkan penggunaan citra satelit untuk memantau hotspot (titik panas) secara real-time guna mencegah api menyebar luas.
Patroli Terpadu di Lahan Rawan: Mengerahkan tim gabungan TNI, Polri, dan Manggala Agni untuk melakukan patroli rutin di kawasan hutan dan lahan gambut yang rawan.
Manajemen Air di Lahan Gambut: Melakukan pemeliharaan sekat kanal (canal blocking) untuk menjaga agar lahan gambut tetap basah dan tidak mudah terbakar.