Secara umum, pembagian ini dilakukan untuk memastikan bahwa bantuan diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan. Berikut adalah gambaran sederhana mengenai pembagian tersebut:
Desil 1 dan 2: Kelompok Sangat Miskin
Kelompok ini adalah prioritas utama pemerintah. Mereka adalah masyarakat yang berada pada tingkat ekonomi paling bawah dengan kemampuan pemenuhan kebutuhan dasar yang sangat terbatas. Mereka merupakan sasaran utama program bantuan tunai maupun sembako.
Desil 3 dan 4: Kelompok Rentan Miskin
Kelompok ini berada sedikit di atas kelompok sangat miskin, namun masih memiliki kerentanan yang tinggi. Jika terjadi guncangan ekonomi—seperti kenaikan harga pangan atau PHK—mereka sangat mudah jatuh ke dalam kategori miskin.
Desil Selanjutnya: Kelompok Menengah hingga Atas
Semakin tinggi angka desil, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan masyarakat tersebut. Idealnya, kelompok di desil tinggi tidak lagi menjadi sasaran program bantuan sosial kemiskinan.
Ketidakakuratan dalam penentuan angka desil inilah yang menjadi "biang kerok" mengapa distribusi bantuan seringkali dianggap tidak adil oleh masyarakat.
Dampak Fatal: Error Inklusi dan Error Eksklusi
Ketidaksesuaian data desil yang diungkapkan oleh Gus Ipul membawa konsekuensi serius dalam kebijakan publik. Dalam dunia statistik dan jaminan sosial, terdapat dua jenis kesalahan fatal yang sering terjadi akibat data yang tidak akurat, yakni inclusion error dan exclusion error.
1. Inclusion Error (Salah Sasaran ke Atas)
Inclusion error terjadi ketika individu atau keluarga yang secara ekonomi sudah mampu atau masuk dalam kategori menengah ke atas, justru masuk ke dalam daftar penerima bantuan sosial. Hal ini menyebabkan pemborosan anggaran negara dan hilangnya kesempatan bagi warga yang benar-benar membutuhkan.
2. Exclusion Error (Salah Sasaran ke Bawah)
Sebaliknya, exclusion error adalah kondisi yang jauh lebih menyakitkan secara sosial. Ini terjadi ketika warga yang sangat miskin dan sangat membutuhkan bantuan, justru tidak terdaftar dalam DTKS atau masuk ke desil yang salah sehingga tidak mendapatkan haknya. Hal ini sering memicu kecemburuan sosial dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.