DWJ Manajement - PORTAL

Mentan Sebut Petani Akan Nikmati Rp 263 T karena Kopdes, Kok Bisa?

Oleh: DWJ-Manajement 28 Jul 2026
Mentan Sebut Petani Akan Nikmati Rp 263 T karena Kopdes, Kok Bisa?

Konsumen akhir

Dengan struktur delapan tahap seperti ini, efisiensi menjadi sangat rendah dan kebocoran ekonomi sangat tinggi. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa pemerintah merasa perlu melakukan intervensi melalui penguatan peran koperasi desa.

Transformasi Kopdes: Memangkas dari 8 Menjadi 3 Tahap

Gagasan utama dari Mentan Amran Sulaiman adalah penyederhanaan radikal terhadap rantai distribusi tersebut. Dengan mengoptimalkan peran Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), pemerintah berupaya memangkas delapan tahapan tersebut menjadi hanya tiga tahapan utama saja.

Dalam skema baru yang diusung, Kopdes akan berfungsi sebagai agregator sekaligus pusat kendali distribusi di tingkat pedesaan. Dengan adanya Kopdes yang kuat dan memiliki akses langsung ke pasar atau industri, peran tengkulak dan pengepul kecil yang tidak efisien dapat dieliminasi. Berikut adalah gambaran penyederhanaan rantai pasok yang direncanakan:

1. Tahap Produksi dan Agregasi (Petani & Kopdes)

Petani tidak lagi menjual hasil panennya kepada tengkulak individu yang datang ke sawah. Sebaliknya, petani menyetorkan hasil panennya langsung ke Koperasi Desa Merah Putih. Di sini, koperasi berperan sebagai penyedia sarana produksi (pupuk, benih, alat pertanian) sekaligus sebagai pembeli tunggal hasil panen petani dengan harga yang adil dan kompetitif.

2. Tahap Distribusi Utama (Kopdes ke Pusat Distribusi/Industri)

Kopdes memiliki kekuatan kolektif untuk melakukan pengiriman dalam volume besar. Produk dari berbagai desa dikumpulkan di titik sentral koperasi, kemudian dikirim langsung ke pusat distribusi regional, pabrik pengolahan, atau pasar induk secara langsung. Hal ini menghilangkan kebutuhan akan pengepul kecil dan distributor berlapis-lapis.

3. Tahap Konsumsi (Pusat Distribusi ke Konsumen)

Bagaimana Rp 263 Triliun Bisa Dinikmati Petani?

Pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana pemangkasan rantai pasok ini bisa menghasilkan angka Rp 263 triliun bagi petani. Logikanya sederhana namun sangat kuat: setiap rupiah yang biasanya diambil oleh perantara (middlemen) akan dialihkan kembali ke produsen (petani) dan konsumen.

Jika kita melihat margin yang diambil oleh enam lapisan perantara dalam rantai delapan tahap, total margin tersebut sangat signifikan jika dikalikan dengan nilai produksi pertanian nasional yang mencapai ribuan triliun rupiah. Dengan memangkas enam lapisan tersebut, maka "kebocoran ekonomi" yang selama ini terjadi dapat ditangkap kembali.

Uang yang sebelumnya mengalir ke kantong tengkulak dan distributor yang tidak produktif, kini akan dialihkan melalui dua mekanisme:

Peningkatan Harga Jual di Tingkat Petani: Karena koperasi membeli langsung dengan harga yang lebih tinggi dari harga tengkulak, pendapatan riil petani akan meningkat secara signifikan.