DWJ Manajement - PORTAL

Mentan Ungkap Modus Penyimpangan Beras Fortifikasi

Oleh: DWJ-Manajement 02 Aug 2026
Mentan Ungkap Modus Penyimpangan Beras Fortifikasi

Waspada Modus Penipuan Beras Fortifikasi, Mentan Amran Sulaiman: Mutu Tak Sesuai Label

Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman memberikan peringatan keras kepada masyarakat terkait temuan penyimpangan dalam peredaran beras di pasar. Pemerintah menemukan adanya praktik kecurangan di mana beras yang dilabeli sebagai "beras fortifikasi" ternyata tidak memiliki kandungan nutrisi tambahan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Modus ini dinilai sangat merugikan masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan. Beras fortifikasi sejatinya dirancang sebagai solusi pangan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi mikro di Indonesia, namun praktik nakal oknum tertentu justru menyalahgunakan label tersebut demi keuntungan semata.

Apa Itu Beras Fortifikasi dan Mengapa Sangat Penting?

Sebelum menelisik lebih dalam mengenai modus penyimpangan yang diungkapkan Mentan, masyarakat perlu memahami apa yang dimaksud dengan beras fortifikasi. Fortifikasi pangan adalah proses penambahan mikronutrien esensial, seperti vitamin dan mineral, ke dalam bahan pangan pokok selama proses produksi.

Dalam konteks beras, fortifikasi biasanya melibatkan penambahan zat besi (iron), zink (zinc), asam folat, serta vitamin lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat daya tahan tubuh dan mencegah berbagai masalah kesehatan kronis yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia.

Peran Strategis dalam Penanganan Stunting

Pemerintah Indonesia saat ini tengah gencar melakukan upaya penurunan angka stunting (tengkes) pada anak. Beras fortifikasi menjadi salah satu instrumen penting dalam strategi ketahanan pangan dan perbaikan gizi nasional. Dengan mengonsumsi beras yang kaya akan zat besi dan zink, risiko kekurangan gizi pada ibu hamil dan anak-anak dapat ditekan secara signifikan.

Oleh karena itu, ketika label "fortifikasi" disalahgunakan, hal ini bukan sekadar masalah penipuan label, melainkan sabotase terhadap program kesehatan nasional yang sedang dijalankan pemerintah.

Membongkar Modus Operandi Penyimpangan Beras

Mentan Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa temuan di lapangan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara apa yang tertulis pada kemasan dengan realitas kandungan nutrisi di dalamnya. Para pelaku penyimpangan ini memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat akan standar kualitas beras fortifikasi.

Berikut adalah beberapa poin utama terkait modus yang ditemukan:

Pelabelan Palsu: Menggunakan istilah "Beras Fortifikasi" atau "Beras Bergizi" pada kemasan, namun proses pengolahannya tidak melewati standar fortifikasi yang diatur oleh regulasi kesehatan.

Ketidaksesuaian Kadar Nutrisi: Meskipun ada proses penambahan nutrisi, jumlah atau dosis vitamin dan mineral yang dimasukkan jauh di bawah ambang batas minimum yang diwajibkan, sehingga tidak memberikan efek kesehatan yang diharapkan.