```html
Skandal AI di Balik PHK Massal: Meta Digugat atas Dugaan Diskriminasi terhadap Karyawan Disabilitas dan Sakit
San Francisco – Dunia teknologi kembali diguncang oleh kontroversi besar yang melibatkan salah satu raksasa media sosial dunia, Meta. Perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp ini kini tengah menghadapi gugatan hukum serius setelah puluhan karyawannya menuduh perusahaan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai alat diskriminatif dalam proses Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.
Sebanyak 26 mantan karyawan telah mengajukan gugatan ke pengadilan, dengan tuduhan bahwa algoritma AI yang digunakan Meta secara sistematis menyasar individu-individu yang berada dalam kondisi rentan, terutama penyandang disabilitas dan mereka yang sedang menjalani cuti medis. Kasus ini memicu perdebatan panas mengenai etika penggunaan AI dalam manajemen sumber daya manusia (HR) dan sejauh mana otomatisasi boleh mengambil alih keputusan yang berdampak langsung pada hajat hidup manusia.
Gugatan ini tidak hanya menyerang kebijakan efisiensi perusahaan, tetapi juga mempertanyakan integritas moral Meta dalam memperlakukan tenaga kerjanya di tengah upaya mengejar profitabilitas dan optimalisasi teknologi.
Inti Gugatan: Algoritma yang "Menargetkan" Kelompok Rentan
Berdasarkan dokumen hukum yang diajukan, para penggugat mengklaim bahwa Meta tidak sekadar melakukan pengurangan staf untuk efisiensi biaya, melainkan menggunakan sistem berbasis AI untuk memfilter karyawan yang dianggap "berbiaya tinggi" atau "kurang produktif" karena alasan medis. Dalam konteks ini, produktivitas tidak diukur berdasarkan kinerja profesional, melainkan berdasarkan kehadiran fisik dan ketiadaan absensi yang disebabkan oleh kondisi kesehatan.
Para penggugat menjelaskan bahwa sistem AI tersebut diduga telah dilatih untuk mengenali pola-pola tertentu, termasuk:
Status Cuti Medis: Karyawan yang sedang mengambil hak cuti sakit atau cuti jangka panjang karena pemulihan medis menjadi sasaran utama algoritma.
Riwayat Disabilitas: Adanya kecurigaan bahwa AI mengidentifikasi karyawan dengan kebutuhan akomodasi khusus (disabilitas) sebagai beban operasional yang harus dieliminasi.