DWJ Manajement - PORTAL

Muncul Daratan Baru Usai Gunung Anak Krakatau Erupsi

Oleh: DWJ-Manajement 24 Sep 2026
Muncul Daratan Baru Usai Gunung Anak Krakatau Erupsi

PVMBG terus memantau perkembangan ini melalui berbagai instrumen pemantauan, baik secara visual maupun melalui data seismik. Perubahan morfologi ini menunjukkan bahwa pasokan magma dari perut bumi ke permukaan masih sangat aktif, yang memicu perubahan struktur fisik pulau secara cepat.

Proses Geologis: Bagaimana Daratan Baru Terbentuk?

Secara ilmiah, pembentukan daratan baru di sekitar gunung api bawah laut atau pulau vulkanik dikenal dengan istilah akresi vulkanik. Ketika gunung api meletus, material pijar berupa lava dan fragmen batuan (tephra) terlontar keluar. Saat material ini jatuh ke laut, terjadi proses pendinginan yang sangat cepat (quenching), sehingga material tersebut membeku dan menumpuk di dasar laut hingga akhirnya mencapai permukaan.

Lama-kelamaan, tumpukan material ini akan membentuk gundukan yang melampaui permukaan air laut, menciptakan daratan baru. Namun, penting untuk dipahami bahwa daratan yang baru terbentuk ini sangat rentan terhadap erosi gelombang laut dan potensi runtuhnya lereng akibat ketidakstabilan struktur materialnya. Dalam beberapa kasus di masa lalu, daratan baru yang terbentuk secara cepat justru bisa memicu ancaman baru jika terjadi longsoran bawah laut yang hebat.

Peringatan Keras: Masyarakat Dilarang Mendekat

Meskipun munculnya daratan baru mungkin tampak menarik bagi sebagian pihak, PVMBG mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat, wisatawan, maupun nelayan di sekitar Selat Sunda. Keberadaan daratan baru ini tidak boleh dianggap sebagai area aman atau tempat baru untuk beraktivitas.

Ada beberapa alasan mengapa mendekati area daratan baru di sekitar Anak Krakatau sangat berbahaya:

Ketidakstabilan Struktur: Daratan yang baru terbentuk terdiri dari material vulkanik yang belum padat, sehingga sangat rawan mengalami longsoran atau amblas saat diinjak atau terkena beban.

Aktivitas Vulkanik Mendadak: Munculnya daratan adalah indikasi bahwa aktivitas magma masih tinggi. Erupsi susulan atau lontaran batu pijar bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan dini yang cukup bagi mereka yang berada di lokasi.

Gas Beracun: Area sekitar kawah dan daratan baru seringkali mengandung konsentrasi gas vulkanik yang tinggi (seperti sulfur dioksida) yang dapat membahayakan pernapasan.