DWJ Manajement - PORTAL

OJK Ingatkan Pusat Finansial RI Tak Cukup Modal Insentif Pajak

Oleh: DWJ-Manajement 09 Jul 2026
OJK Ingatkan Pusat Finansial RI Tak Cukup Modal Insentif Pajak

Pilar pertama dan yang paling krusial adalah kepastian hukum. Dalam dunia keuangan internasional, hukum adalah fondasi. Investor memerlukan jaminan bahwa sengketa bisnis dapat diselesaikan melalui mekanisme arbitrase yang independen, transparan, dan diakui secara internasional.

Selain itu, harmonisasi regulasi antar lembaga menjadi tantangan tersendiri. Indonesia perlu memastikan bahwa aturan yang dikeluarkan oleh OJK, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, hingga otoritas terkait lainnya tidak tumpang tindih atau saling kontradiktif. Regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi finansial (FinTech) namun tetap menjaga stabilitas sistem keuangan menjadi syarat mutlak.

2. Infrastruktur Teknologi dan Keamanan Siber

Di era digital saat ini, pusat finansial bukan lagi sekadar kumpulan gedung pencakar langit, melainkan jaringan konektivitas data yang super cepat dan aman. Infrastruktur teknologi informasi harus mampu mendukung transaksi volume tinggi dengan latensi yang sangat rendah.

Lebih jauh lagi, aspek keamanan siber (cybersecurity) menjadi harga mati. Mengingat pusat finansial adalah target utama serangan siber global, Indonesia harus memiliki standar keamanan data yang setara dengan standar internasional. Tanpa sistem proteksi yang mumpuni, kepercayaan investor terhadap integritas sistem keuangan nasional akan sulit terbentuk.

3. Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) Berkualitas

Pilar ketiga adalah kualitas talenta. Pusat finansial internasional membutuhkan tenaga kerja ahli yang tidak hanya menguasai teknis keuangan, tetapi juga memahami kompleksitas hukum internasional, kepatuhan (compliance), manajemen risiko, hingga analisis data berbasis kecerdasan buatan (AI).

Indonesia perlu melakukan akselerasi dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi dan program sertifikasi profesi keuangan yang diakui secara global. Membangun pusat finansial tanpa dukungan SDM yang kompetitif hanya akan membuat Indonesia terus bergantung pada tenaga ahli asing, yang pada akhirnya justru akan menambah beban biaya operasional bagi para pelaku industri di dalam negeri.

Menghadapi Tantangan Kompetisi Regional

Peta persaingan di Asia Tenggara sangatlah ketat. Singapura telah lama memegang predikat sebagai hub keuangan utama di kawasan ini berkat efisiensi birokrasi, stabilitas politik, dan ekosistem hukum yang sangat matang. Untuk bisa merebut pangsa pasar atau setidaknya menjadi alternatif bagi pemain global, Indonesia tidak boleh hanya meniru strategi negara tetangga.