DWJ Manajement - PORTAL

Pakar Ungkap Peluang Indonesia Kena Gelombang Panas

Oleh: DWJ-Manajement 07 Jul 2026
Pakar Ungkap Peluang Indonesia Kena Gelombang Panas

Fenomena El Nino: Fenomena iklim ini seringkali menjadi penyebab utama kemarau panjang di Indonesia. El Nino menyebabkan penurunan curah hujan secara drastis dan peningkatan suhu permukaan laut, yang berdampak langsung pada panas yang menyengat di daratan Indonesia.

Pemanasan Global (Global Warming): Akumulasi gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan panas matahari terperangkap di bumi. Hal ini meningkatkan suhu rata-rata global, termasuk di wilayah tropis.

Urban Heat Island (Pulau Panas Perkotaan): Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, pembangunan gedung pencakar langit dan minimnya ruang terbuka hijau menciptakan fenomena Urban Heat Island. Beton dan aspal menyerap panas di siang hari dan melepaskannya di malam hari, membuat suhu kota tetap tinggi bahkan saat malam tiba.

Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan: Penggundulan hutan mengurangi kemampuan alam untuk menyerap karbon dan menyediakan pengayoman suhu melalui evaporasi dari tajuk pohon.

Dampak Multisektoral: Dari Kesehatan hingga Ketahanan Pangan

Jika gelombang panas yang intens terjadi secara berkelanjutan di Indonesia, dampaknya tidak hanya akan dirasakan secara individu, tetapi juga secara sistemik pada berbagai sektor kehidupan.

1. Ancaman Kesehatan Masyarakat

Peningkatan suhu ekstrem berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan. Selain heatstroke, masyarakat rentan terhadap dehidrasi akut, gangguan ginjal, hingga penyakit kardiovaskular. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan (seperti petani dan buruh konstruksi) menjadi pihak yang paling terancam nyawanya akibat paparan suhu tinggi yang berkepanjangan.

2. Krisis Ketahanan Pangan

Sektor pertanian adalah sektor yang paling sensitif terhadap perubahan suhu. Suhu yang terlalu tinggi dapat mengganggu proses penyerbukan tanaman, mempercepat penguapan air dalam tanah, dan merusak siklus hidup hama. Jika gelombang panas ini dibarengi dengan kekeringan, risiko gagal panen massal akan meningkat, yang pada akhirnya dapat memicu lonjakan harga pangan di pasar domestik.