DWJ Manajement - PORTAL

PBOC Kembali Tahan Suku Bunga di Level Terendah Sepanjang Sejarah

Oleh: DWJ-Manajement 21 Sep 2026
PBOC Kembali Tahan Suku Bunga di Level Terendah Sepanjang Sejarah

Bank Sentral China (PBOC) Pertahankan Suku Bunga di Level Terendah Sepanjang Sejarah, Upaya Stimulus di Tengah Tekanan Deflasi

BEIJING – Bank Sentral China, People's Bank of China (PBOC), secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level terendah sepanjang sejarah ekonomi negara tersebut. Langkah ini diambil di tengah upaya keras Beijing untuk membangkitkan kembali mesin pertumbuhan ekonominya yang tengah mengalami perlambatan signifikan akibat berbagai tantangan struktural.

Keputusan ini menandakan komitmen berkelanjutan dari otoritas moneter Tiongkok untuk menerapkan kebijakan "dovish". Dengan menjaga suku bunga tetap rendah, PBOC berharap dapat menurunkan biaya pinjaman bagi korporasi dan rumah tangga, yang pada akhirnya diharapkan mampu merangsang konsumsi domestik serta investasi yang selama ini cenderung stagnan.

Latar Belakang Kebijakan Moneter Ekspansif PBOC

Keputusan PBOC untuk tidak menaikkan suku bunga, melainkan mempertahankannya di level yang sangat rendah, bukanlah tanpa alasan. Ekonomi Tiongkok saat ini tengah menghadapi badai tantangan yang kompleks, mulai dari krisis sektor properti yang berkepanjangan hingga tekanan deflasi yang mengancam daya beli masyarakat.

Dalam beberapa kuartal terakhir, data menunjukkan bahwa angka inflasi di Tiongkok berada di zona negatif atau sangat rendah. Kondisi deflasi ini sangat berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi karena dapat menciptakan siklus penurunan: harga yang turun membuat konsumen menunda pembelian dengan harapan harga akan lebih murah di masa depan, yang kemudian menyebabkan penurunan permintaan dan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) serta penurunan pendapatan.

Untuk memutus siklus negatif ini, PBOC berupaya menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem perbankan. Dengan suku bunga rendah, perbankan didorong untuk lebih agresif dalam menyalurkan kredit, meskipun tantangan utamanya adalah bagaimana memastikan kredit tersebut benar-benar mengalir ke sektor riil dan bukan sekadar mengendap di instrumen keuangan.

Krisis Sektor Properti sebagai Pemicu Utama

Salah satu faktor fundamental yang memaksa PBOC mengambil kebijakan ini adalah krisis di sektor properti. Sektor properti selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Tiongkok, menyumbang persentase yang sangat besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Namun, krisis likuiditas yang melanda sejumlah raksasa pengembang properti telah meruntuhkan kepercayaan pasar.

Ketika harga rumah turun dan proyek-proyek pembangunan terbengkalai, kekayaan rumah tangga yang sebagian besar tersimpan dalam bentuk aset properti ikut menyusut. Hal ini berdampak langsung pada efek kekayaan (wealth effect) yang negatif, di mana masyarakat merasa lebih miskin dan cenderung menahan belanja mereka. Kebijakan suku bunga rendah bertujuan untuk meringankan beban utang sektor properti dan mencoba menstabilkan pasar perumahan yang sedang lesu.

Dampak Kebijakan Terhadap Pasar Keuangan Global

Langkah PBOC tidak hanya bergema di dalam negeri Tiongkok, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap dinamika pasar keuangan global. Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, setiap kebijakan moneter dari Beijing selalu menjadi sorotan para investor di seluruh dunia.