DWJ Manajement - PORTAL

Pemerintah Pede Rupiah Tak Akan Lampaui Rp17.500/US$ Sampai 2027

Oleh: DWJ-Manajement • 29 Sep 2026
Pemerintah Pede Rupiah Tak Akan Lampaui Rp17.500/US$ Sampai 2027

Pemerintah Optimis Nilai Tukar Rupiah Terjaga, Targetkan Tak Tembus Rp17.500 hingga 2027

Dalam rancangan APBN mendatang, pemerintah tetap mempertahankan asumsi makro ekonomi yang stabil di tengah dinamika pasar keuangan global yang fluktuatif.

JAKARTA - Pemerintah Indonesia menyatakan kepercayaan diri yang tinggi terkait stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah. Dalam kerangka rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah memutuskan untuk tidak melakukan perubahan signifikan terhadap asumsi kurs rupiah, dengan keyakinan bahwa mata uang Garuda tidak akan melewati level Rp17.500 per dolar AS hingga tahun 2027.

Langkah ini diambil di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi pasar keuangan dunia. Meskipun tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets) sering kali meningkat akibat kebijakan moneter Amerika Serikat, pemerintah menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup tangguh untuk meredam guncangan tersebut.

Strategi Asumsi Makro dalam Rancangan APBN

Keputusan pemerintah untuk mempertahankan asumsi kurs rupiah dalam rancangan APBN didasarkan pada perhitungan matang mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, dan neraca pembayaran. Pemerintah memandang bahwa angka yang ditetapkan saat ini masih berada dalam koridor yang rasional dan mencerminkan kondisi ekonomi riil yang diproyeksikan ke depan.

Asumsi makro dalam APBN bukan sekadar angka teknis, melainkan instrumen krusial dalam perencanaan fiskal. Jika pemerintah menetapkan asumsi kurs yang terlalu optimis, maka risiko terjadinya defisit anggaran yang membengkak akan meningkat jika realisasi kurs di pasar ternyata lebih lemah. Sebaliknya, jika asumsi terlalu konservatif, ruang gerak fiskal untuk pembangunan bisa menjadi terbatas.

Dengan mematok batas Rp17.500 per dolar AS, pemerintah berupaya menciptakan ruang kebijakan yang cukup luas untuk mengelola belanja negara, terutama yang berkaitan dengan pembayaran utang luar negeri dan subsidi energi. Berikut adalah beberapa poin utama mengapa pemerintah merasa perlu mempertahankan asumsi tersebut:

Stabilitas Defisit Anggaran: Menjaga agar beban pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri tetap terkendali dalam batas aman.

Kepastian Penganggaran Subsidi: Mengingat harga komoditas energi global sangat dipengaruhi oleh nilai tukar, asumsi ini membantu dalam memitigasi risiko pembengkakan subsidi BBM dan listrik.