DWJ Manajement - PORTAL

Pemerintah RI Minta 2 Lembaga Tarik 1.800 Ton Emas dari Bawah Bantal

Oleh: DWJ-Manajement • 20 Aug 2026
Pemerintah RI Minta 2 Lembaga Tarik 1.800 Ton Emas dari Bawah Bantal

Mandat Dua Lembaga Keuangan Utama

Pemerintah tidak bekerja sendirian. Dalam instruksi ini, dua lembaga jasa keuangan—yang secara implisit merujuk pada otoritas pengawas dan regulator moneter—diminta untuk segera menyusun strategi konkret. Fokus utamanya adalah membangun kembali dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan digital dan perbankan.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah masalah kepercayaan atau trust issue. Banyak lapisan masyarakat, terutama di daerah, masih merasa lebih aman memegang fisik emas secara langsung daripada melihat angka di saldo digital atau buku tabungan. Oleh karena itu, kedua lembaga ini ditugaskan untuk:

1. Memperkuat Literasi Keuangan Berbasis Emas

Masyarakat perlu diedukasi bahwa menyimpan emas di lembaga resmi jauh lebih aman daripada menyimpannya sendiri yang rentan terhadap risiko pencurian atau kehilangan. Edukasi ini harus mencakup pemahaman tentang bagaimana emas fisik mereka dijamin oleh lembaga negara dan bagaimana mereka bisa mencairkannya kapan saja saat dibutuhkan.

2. Digitalisasi dan Kemudahan Akses

Pemerintah ingin mendorong transformasi dari emas fisik "bawah bantal" menuju emas digital atau emas dalam bentuk rekening tabungan. Dengan teknologi finansial (fintech) yang semakin maju, akses untuk membeli, menjual, dan menitipkan emas harus dibuat semudah melakukan transaksi transfer antarbank.

Mengapa 1.800 Ton Emas Begitu Signifikan?

Angka 1.800 ton bukanlah angka yang kecil. Jika dikonversi ke dalam nilai mata uang saat ini, jumlah tersebut mencapai angka ratusan triliun rupiah. Secara global, emas merupakan instrumen cadangan devisa yang sangat krusial. Jika sebagian dari aset masyarakat ini dapat dikelola secara kolektif melalui sistem keuangan, maka kekuatan finansial Indonesia di mata dunia akan semakin kokoh.

Selain itu, integrasi ini akan membantu mengurangi shadow economy atau ekonomi yang tidak tercatat. Dengan masuknya aset emas ke dalam sistem, pemerintah dapat memiliki data yang lebih akurat mengenai profil kekayaan masyarakat, yang pada akhirnya akan membantu dalam perumusan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih tepat sasaran.

Beberapa faktor yang menyebabkan emas tetap berada di bawah bantal antara lain: