Ketahanan ekonomi domestik yang tetap stabil meski dihantam volatilitas pasar global.
Pujian untuk Kinerja Ditjen Pajak
Fokus utama dari kenaikan penerimaan ini, sebagaimana disampaikan Menkeu, terletak pada performa luar biasa dari Direktorat Jenderal Pajak. DJP dianggap berhasil melakukan transformasi digital dan penguatan pengawasan yang mampu menutup celah kebocoran penerimaan negara.
Purbaya menyebutkan bahwa dedikasi para petugas pajak di lapangan, yang didukung oleh sistem teknologi informasi yang mutakhir, telah membuahkan hasil nyata. Modernisasi administrasi perpajakan terbukti mampu meningkatkan kepatuhan wajib pajak secara sukarela sekaligus memperkuat fungsi penegakan hukum bagi mereka yang mencoba menghindari kewajiban.
“Saya sangat mengapresiasi dedikasi seluruh jajaran Ditjen Pajak. Mereka bekerja di garda terdepan dalam menjaga kedaulatan fiskal kita. Pencapaian 30 persen ini adalah bukti bahwa transformasi yang kita lakukan sudah berada di jalur yang benar,” tambah Purbaya.
APBN sebagai Instrumen Kesejahteraan Rakyat
Lebih lanjut, Menteri Keuangan menekankan bahwa setiap rupiah yang masuk ke kas negara melalui pajak dan penerimaan lainnya akan dikelola dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Fokus utama pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah memastikan kebermanfaatannya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Pemerintah berkomitmen untuk terus menggunakan APBN sebagai instrumen penyeimbang (shock absorber) ekonomi. Hal ini mencakup penyediaan subsidi energi yang tepat sasaran, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan layanan kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong konektivitas antarwilayah di Indonesia.
Strategi penggunaan APBN yang efektif mencakup beberapa poin utama berikut: