DWJ Manajement - PORTAL

Peredaran Uang Primer (M0) Melambat, Cuma Tumbuh 13,8% di Juni 2026

Oleh: DWJ-Manajement 07 Jul 2026
Peredaran Uang Primer (M0) Melambat, Cuma Tumbuh 13,8% di Juni 2026

Peredaran Uang Primer (M0) Melambat, Bank Indonesia Catat Pertumbuhan 13,8 Persen pada Juni 2026

Tren Likuiditas Perbankan Menunjukkan Sinyal Konsolidasi di Tengah Dinamika Ekonomi Nasional

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) merilis laporan terbaru mengenai kondisi moneter nasional yang menunjukkan adanya perubahan signifikan pada komponen dasar jumlah uang beredar. Berdasarkan data yang dihimpun, peredaran uang primer atau yang dikenal dengan istilah M0, mengalami perlambatan pertumbuhan pada periode Juni 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa uang primer tumbuh sebesar 13,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini mencerminkan adanya tren perlambatan jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan pada periode-periode sebelumnya. Fenomena ini menjadi perhatian penting bagi para pelaku pasar, analis ekonomi, serta pembuat kebijakan karena M0 merupakan fondasi utama dari seluruh sistem likuiditas di dalam negeri.

Pergerakan uang primer ini menjadi indikator krusial untuk melihat bagaimana bank sentral mengelola suplai uang dan bagaimana dampaknya terhadap kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit serta menjaga stabilitas harga. Perlambatan ini muncul di tengah upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi yang tetap terjaga dalam koridor target.

Apa Itu Uang Primer (M0) dan Mengapa Angkanya Begitu Krusial?

Sebelum mendalami lebih jauh mengenai angka 13,8 persen tersebut, penting bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk memahami apa yang dimaksud dengan uang primer atau M0. Dalam teori ekonomi moneter, uang primer adalah komponen paling dasar dari jumlah uang beredar. M0 mencakup uang kartal (uang kertas dan logam) yang ada di masyarakat serta cadangan bank yang ditempatkan di Bank Indonesia.

Mengapa pertumbuhan M0 sangat dipantau oleh para ahli? Hal ini dikarenakan M0 bertindak sebagai "bahan baku" bagi terciptanya uang dalam jumlah yang lebih luas (seperti M1 dan M2) melalui mekanisme pengganda uang (money multiplier) di sistem perbankan. Ketika pertumbuhan M0 melambat, hal ini memberikan sinyal bahwa ketersediaan likuiditas dasar di sistem perbankan sedang mengalami pengetatan atau konsolidasi.

Secara umum, pengendalian terhadap M0 dilakukan oleh Bank Indonesia melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Dengan mengatur jumlah uang primer, BI dapat memengaruhi tingkat suku bunga, jumlah kredit yang disalurkan oleh bank umum, hingga tingkat inflasi yang terjadi di tingkat konsumen. Oleh karena itu, angka pertumbuhan 13,8 persen pada Juni 2026 ini membawa pesan penting mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Bedah Data: Mengapa Pertumbuhan 13,8 Persen Dianggap Melambat?

Meskipun angka 13,8 persen secara nominal tampak cukup positif, namun jika diletakkan dalam konteks tren pertumbuhan historis, angka ini menunjukkan adanya deselerasi. Perlambatan ini mengindikasikan bahwa ekspansi likuiditas yang dilakukan oleh bank sentral tidak seagresif periode sebelumnya. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor fundamental yang saling berkaitan.

Beberapa poin yang menjadi catatan dalam pertumbuhan M0 kali ini antara lain: