Waspada! BMKG Beri Peringatan Kekeringan Ekstrem Agustus 2026 Akibat El Nino, Ini Daftar Wilayahnya
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan dini terkait potensi ancaman kekeringan ekstrem yang diprediksi akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada Agustus 2026. Fenomena ini dipicu oleh intensitas El Nino yang semakin menguat, yang menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan di berbagai daerah.
Peringatan ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi krisis air bersih, kegagalan panen di sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap menyertai musim kemarau panjang. Masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk mulai melakukan langkah-langkah mitigasi sedini mungkin.
Anomali Cuaca: El Nino Menjadi Pemicu Utama
Berdasarkan data pemantauan terbaru dari BMKG, anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menunjukkan tren peningkatan yang mengindikasikan penguatan fenomena El Nino. Fenomena ini mengakibatkan gangguan pada siklus hidrologi di wilayah Indonesia, di mana massa udara yang membawa kelembapan berkurang drastis.
Akibatnya, distribusi curah hujan tidak berjalan sesuai dengan siklus normalnya. Wilayah yang biasanya memiliki intensitas hujan sedang, kini berpotensi mengalami kemarau yang jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. BMKG menekankan bahwa bulan Agustus merupakan puncak dari musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga dampak dari El Nino akan terasa sangat nyata pada periode ini.
Daftar Wilayah dengan Potensi Kekeringan Ekstrem
BMKG telah memetakan sejumlah wilayah yang memiliki risiko tertinggi mengalami defisit air yang parah. Wilayah-wilayah ini dikategorikan berdasarkan tingkat kerentanan terhadap kekurangan curah hujan dan ketersediaan cadangan air tanah.
Berikut adalah daftar wilayah yang masuk dalam zona merah peringatan kekeringan ekstrem pada Agustus 2026:
Pulau Jawa: Mencakup sebagian besar Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga wilayah DKI Jakarta yang berpotensi mengalami penurunan debit air sungai.
Nusa Tenggara: Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diprediksi menjadi area dengan dampak paling signifikan karena karakteristik iklimnya yang memang cenderung kering.