Bali: Potensi kekeringan yang dapat mengganggu sektor pariwisata dan ketersediaan air domestik.
Sulawesi: Sebagian wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara diantisipasi mengalami penurunan curah hujan yang drastis.
Sumatra: Beberapa titik di wilayah Sumatra bagian selatan yang rentan terhadap ancaman kebakaran lahan.
Dampak Multisektoral: Dari Pertanian hingga Krisis Air Bersih
Kekeringan ekstrem bukan sekadar masalah cuaca, melainkan ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dan sosial. Jika tidak ditangani dengan cepat, fenomena ini akan menimbulkan efek domino di berbagai sektor vital.
1. Ancaman Ketahanan Pangan dan Sektor Pertanian
Sektor pertanian diprediksi menjadi korban paling pertama. Banyak petani yang mengandalkan sistem irigasi tadah hujan akan menghadapi kesulitan besar dalam mengelola lahan mereka. Penurunan debit air di bendungan dan saluran irigasi dapat menyebabkan gagal panen atau yang sering dikenal dengan istilah "puso". Hal ini tentu akan berdampak pada kenaikan harga pangan di pasar domestik akibat berkurangnya pasokan produksi.
2. Krisis Air Bersih dan Sanitasi
Di wilayah perkotaan maupun pedesaan, ketersediaan air bersih untuk kebutuhan domestik akan menjadi tantangan besar. Sumur-sumur warga diprediksi akan mengering, dan debit air dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) kemungkinan akan mengalami penurunan. Kondisi ini jika dibiarkan dapat memicu masalah kesehatan akibat penurunan kualitas sanitasi dan akses terhadap air layak konsumsi.
3. Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)
Kondisi vegetasi yang kering akibat minimnya hujan menciptakan bahan bakar alami yang sangat mudah terbakar. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan secara masif, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Selain merusak ekosistem, kabut asap yang dihasilkan dapat mengganggu kesehatan pernapasan masyarakat serta mengganggu aktivitas transportasi udara.