DWJ Manajement - PORTAL

Permintaan Renminbi di Pasar RI Setara US$ 38,9 Miliar

Oleh: DWJ-Manajement 19 Aug 2026
Permintaan Renminbi di Pasar RI Setara US$ 38,9 Miliar

Langkah BI dalam mendorong digitalisasi sistem pembayaran ini telah memudahkan korporasi besar maupun pelaku UMKM untuk mengakses pasar internasional dengan cara yang lebih sederhana. Dengan infrastruktur yang semakin matang, penggunaan Renminbi kini bukan lagi pilihan alternatif, melainkan sudah menjadi pilihan utama bagi banyak sektor industri di Indonesia.

Dominasi China sebagai Mitra Dagang Utama Indonesia

Tingginya angka permintaan Renminbi yang mencapai Rp 691,87 triliun ini sangat berkaitan erat dengan posisi China sebagai salah satu mitra dagang terbesar bagi Indonesia. Data menunjukkan bahwa volume perdagangan bilateral antara kedua negara terus mengalami tren positif, baik dari sisi ekspor komoditas unggulan Indonesia maupun impor barang modal dan manufaktur dari China.

Sektor-sektor kunci yang berkontribusi besar terhadap permintaan Renminbi di pasar Indonesia meliputi:

Industri Manufaktur: Impor komponen elektronik, mesin, dan alat berat dari China yang menggunakan Renminbi sebagai basis pembayaran.

Infrastruktur dan Energi: Proyek-proyek strategis nasional yang melibatkan investasi dan pengadaan material dari perusahaan China.

Komoditas dan Sumber Daya Alam: Transaksi perdagangan hasil bumi yang mulai mengadopsi sistem pembayaran non-dolar untuk efisiensi.

E-commerce dan Ritel: Meningkatnya volume transaksi barang konsumsi dari platform digital China yang menyasar pasar konsumen Indonesia.

Dampak terhadap De-dolarisasi di Pasar Global

Fenomena meningkatnya permintaan Renminbi di Indonesia juga merupakan bagian dari tren global yang dikenal sebagai "de-dolarisasi". Banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai mencari cara untuk mengurangi ketergantungan yang berlebihan pada dolar AS dalam perdagangan internasional mereka. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk melindungi ekonomi domestik dari kebijakan moneter Amerika Serikat yang seringkali berdampak sistemik terhadap negara-negara berkembang.

Dengan memperkuat penggunaan mata uang lokal seperti Renminbi dalam perdagangan dengan China, Indonesia secara tidak langsung memperkuat ketahanan ekonomi nasional terhadap guncangan eksternal yang bersumber dari pasar keuangan Amerika Serikat.

Implikasi Terhadap Nilai Tukar Rupiah dan Stabilitas Ekonomi

Bagi stabilitas nilai tukar Rupiah, tingginya permintaan Renminbi membawa dampak yang kompleks namun cenderung positif dalam konteks manajemen cadangan devisa. Ketika permintaan terhadap dolar AS berkurang karena penggunaan LCT, tekanan terhadap Rupiah terhadap dolar cenderung mereda. Hal ini memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi pasar secara lebih efektif.