Dorong Kemandirian Ekonomi Pesisir, Pertamina Perkuat UMKM Lewat Program Kampung Bahari Si Pelaut
Melalui pendekatan holistik mulai dari budidaya hingga hilirisasi produk laut, inisiatif ini diharapkan menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu pilar ekonomi krusial bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Namun, tantangan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat pesisir, terutama pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), seringkali menjadi hambatan dalam mencapai kesejahteraan yang merata. Menyadari potensi besar sekaligus tantangan tersebut, PT Pertamina (Persero) melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) mengambil langkah nyata untuk melakukan intervensi ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui program bertajuk "Kampung Bahari Si Pelaut", Pertamina berkomitmen untuk melakukan pendampingan intensif guna mengubah pola pikir dan pola kerja masyarakat pesisir. Program ini tidak hanya berfokus pada pengambilan hasil alam secara langsung, tetapi juga menekankan pada aspek pengelolaan lingkungan dan peningkatan nilai tambah produk melalui proses hilirisasi.
Transformasi Ekonomi Masyarakat Pesisir melalui Kampung Bahari Si Pelaut
Program Kampung Bahari Si Pelaut dirancang sebagai sebuah ekosistem pemberdayaan. Pertamina menyadari bahwa untuk menciptakan perubahan yang permanen, bantuan tidak boleh hanya bersifat karitatif atau pemberian bantuan tunai sesaat. Sebaliknya, bantuan harus berbentuk pengembangan kapasitas (capacity building) yang menyentuh akar permasalahan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan empat kelompok masyarakat utama yang memiliki peran strategis dalam rantai nilai ekonomi kelautan. Keempat kelompok ini bekerja secara sinergis, menciptakan sebuah siklus ekonomi yang saling mendukung satu sama lain, mulai dari menjaga alam, memproduksi bahan baku, hingga mengolah bahan baku menjadi produk bernilai jual tinggi.
Berikut adalah empat pilar utama dalam program Kampung Bahari Si Pelaut yang menjadi fokus pengembangan:
Kelompok Budidaya Ikan dan Sayuran: Fokus pada penyediaan stok pangan mandiri dan komoditas ekonomi melalui teknik budidaya yang modern dan efisien.
Kelompok Rehabilitasi Mangrove: Berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga ekosistem pesisir agar tetap produktif dan terlindungi dari abrasi.
Kelompok Pengolahan Hasil Perikanan: Bertugas melakukan hilirisasi produk mentah menjadi produk olahan yang memiliki masa simpan lebih lama dan nilai jual lebih tinggi.
Kelompok Manajemen dan Pemasaran: Memastikan seluruh rantai produksi dapat menjangkau pasar yang lebih luas, baik lokal maupun nasional.