Data Kendaraan yang Tidak Akurat: Kesulitan dalam memverifikasi secara langsung apakah kendaraan yang mengisi BBM benar-benar sesuai dengan kapasitas mesin dan hak subsidinya.
Dengan mekanisme STNK, diharapkan petugas SPBU dapat melakukan verifikasi instan antara jenis mesin kendaraan dengan jenis BBM yang diminta. Namun, implementasi di lapangan diprediksi akan menghadapi kendala besar, mulai dari antrean yang mengular hingga potensi gesekan antara petugas SPBU dengan konsumen.
Mekanisme Penyaluran BBM Bersubsidi Saat Ini
Meski rencana kewajiban STNK dibatalkan, Pertamina menegaskan bahwa upaya untuk memastikan BBM bersubsidi tepat sasaran tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Pertamina telah memiliki sistem digital yang berjalan untuk memitigasi penyalahgunaan tersebut.
Saat ini, fokus utama pemerintah dan Pertamina adalah pada optimalisasi penggunaan aplikasi MyPertamina dan penggunaan QR Code. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai sistem yang saat ini berjalan:
1. Digitalisasi Melalui MyPertamina
Penggunaan aplikasi MyPertamina merupakan langkah transformasi digital untuk merekam data transaksi secara lebih akurat. Melalui sistem ini, data kendaraan yang terdaftar dapat disinkronkan dengan kuota subsidi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2. Penggunaan QR Code sebagai Instrumen Kendali
Penerapan QR Code di berbagai SPBU bertujuan untuk mempermudah verifikasi tanpa harus melakukan pemeriksaan dokumen fisik secara manual yang memakan waktu lama. Kendaraan yang sudah terverifikasi dapat langsung melakukan pengisian dengan memindai kode tersebut.
3. Pengawasan Berbasis Data
Pertamina terus melakukan analisis data transaksi untuk mendeteksi anomali. Jika ditemukan adanya pola pembelian yang tidak wajar dari satu jenis kendaraan atau satu lokasi, sistem akan memberikan peringatan untuk ditindaklanjuti oleh tim pengawas di lapangan.