Pertamina menyadari bahwa transisi energi memerlukan keseimbangan antara menjaga ketahanan energi nasional dan memenuhi standar lingkungan global. Oleh karena itu, pengembangan ekosistem CCS/CCUS dirancang untuk menyatu dengan lini bisnis inti perusahaan, mulai dari hulu (upstream) hingga hilir (downstream).
Optimalisasi Lapangan Minyak dan Gas
Di sektor hulu, teknologi CCUS dapat diterapkan melalui metode Enhanced Oil Recovery (EOR). Dalam metode ini, CO2 yang disuntikkan ke dalam sumur minyak tua dapat membantu mendorong sisa-sisa minyak yang sulit dijangkau menuju permukaan. Hal ini memberikan keuntungan ganda: meningkatkan produksi migas nasional sekaligus mengunci emisi karbon di dalam tanah.
Dekarbonisasi Operasional Kilang
Pada sektor hilir, Pertamina memiliki banyak unit kilang yang merupakan penyumbang emisi karbon signifikan. Dengan menerapkan teknologi penangkapan karbon di unit-unit pengolahan, Pertamina dapat menekan jejak karbon dari produk-produk energi yang dihasilkan, sehingga produk tersebut tetap kompetitif di pasar global yang semakin menuntut standar produk hijau.
Membangun Ekosistem Melalui Kolaborasi Lintas Industri
Salah satu kunci keberhasilan implementasi CCS/CCUS adalah skala ekonomi. Pengembangan teknologi ini memerlukan investasi yang sangat besar dan infrastruktur yang masif. Pertamina memahami bahwa perusahaan tidak dapat berjalan sendiri. Oleh karena itu, fokus utama perusahaan adalah membangun sebuah ekosistem yang melibatkan berbagai pihak.
Ekosistem yang dibangun Pertamina mencakup:
Sektor Industri Berat: Perusahaan semen, baja, dan kimia yang memiliki emisi tinggi dapat menjadi "pelanggan" yang menyalurkan emisi karbon mereka ke dalam infrastruktur CCS milik Pertamina.
Pemerintah dan Regulator: Dukungan regulasi yang jelas, termasuk insentif pajak dan kepastian hukum terkait hak pengelolaan ruang bawah tanah, menjadi sangat krusial.
Mitra Teknologi Global: Kolaborasi dengan perusahaan teknologi energi internasional untuk membawa inovasi terbaru dalam efisiensi penangkapan karbon.
Lembaga Keuangan: Akses terhadap pembiayaan hijau (green financing) untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur rendah karbon yang padat modal.
Dengan pendekatan ini, Pertamina memposisikan dirinya bukan hanya sebagai perusahaan minyak dan gas, melainkan sebagai penyedia layanan pengelolaan karbon (carbon management service provider) bagi industri lain di Indonesia.