DWJ Manajement - PORTAL

Pertamina 'Sulap' Gas Alam Tinggi CO2 Jadi Energi Bersih

Oleh: DWJ-Manajement 23 Sep 2026
Pertamina 'Sulap' Gas Alam Tinggi CO2 Jadi Energi Bersih

Pertamina Berhasil Sulap Gas Alam Tinggi CO2 Jadi Energi Bersih, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Optimalisasi Stasiun Pengumpul Akasia Bagus di Jatibarang Field Jadi Kunci Reduksi Emisi dan Peningkatan Produksi Migas

Dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim global, PT Pertamina (Persero) terus melakukan inovasi teknologi di sektor hulu migas. Salah satu capaian terbaru yang menjadi sorotan adalah keberhasilan Pertamina dalam mengelola dan mengonversi gas alam yang memiliki kandungan karbon dioksida (CO2) tinggi menjadi sumber energi yang lebih bersih dan bernilai guna.

Langkah strategis ini dilakukan melalui optimalisasi operasional di Jatibarang Field. Melalui pemanfaatan teknologi pemrosesan yang canggih, gas alam yang sebelumnya dianggap memiliki tantangan lingkungan tinggi karena kandungan CO2-nya, kini dapat diolah menjadi produk energi yang mendukung kebutuhan domestik tanpa mengesampingkan prinsip keberlanjutan.

Inovasi Teknologi di Tengah Tantangan Dekarbonisasi

Seiring dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat, industri migas dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana tetap memproduksi energi untuk kebutuhan nasional sambil menekan emisi karbon sekecil mungkin. Gas alam sering kali dianggap sebagai energi transisi yang lebih bersih dibandingkan batubara atau minyak bumi, namun keberadaan kandungan CO2 yang tinggi dalam gas tersebut dapat menjadi kendala teknis maupun lingkungan jika tidak dikelola dengan tepat.

Di Jatibarang Field, Pertamina berhasil mengatasi kendala tersebut. Alih-alih membiarkan gas dengan kadar CO2 tinggi tersebut menjadi beban emisi, perusahaan melakukan proses pemisahan dan pemurnian. Teknologi ini memungkinkan gas alam yang telah dimurnikan dapat dialirkan ke konsumen, sementara emisi karbonnya dikelola sedemikian rupa agar tidak mencemari atmosfer secara signifikan.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa transisi energi tidak harus berarti penghentian total produksi migas, melainkan transformasi cara produksi menjadi lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih ramah lingkungan. Ini adalah implementasi nyata dari konsep ekonomi sirkular di sektor energi, di mana limbah atau residu dari satu proses diubah menjadi nilai tambah bagi proses lainnya.

Operasional Stasiun Pengumpul Akasia Bagus: Jantung Produksi Jatibarang Field

Kunci utama dari keberhasilan transformasi ini terletak pada pengoperasian Stasiun Pengumpul Akasia Bagus. Fasilitas ini memegang peranan krusial dalam rantai produksi di Jatibarang Field. Stasiun ini berfungsi sebagai titik temu sekaligus pusat pengolahan awal bagi gas yang dihasilkan dari sumur-sumur migas di wilayah tersebut.

Dengan beroperasinya Stasiun Pengumpul Akasia Bagus secara optimal, Pertamina dapat melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap kualitas gas yang dihasilkan. Proses pembersihan gas dari pengotor, termasuk CO2, dilakukan di fasilitas ini sebelum gas tersebut didistribusikan lebih lanjut untuk keperluan industri maupun pembangkit listrik.