DWJ Manajement - PORTAL

PHE ONWJ Rampungkan 3 Pipa Bawah Laut 21 Km

Oleh: DWJ-Manajement 31 Jul 2026
PHE ONWJ Rampungkan 3 Pipa Bawah Laut 21 Km

Meningkatkan Flow Assurance: Memastikan aliran migas dari sumur ke fasilitas pemrosesan berjalan lancar tanpa hambatan teknis seperti penyumbatan atau penurunan tekanan yang drastis.

Optimalisasi Kapasitas Produksi: Memungkinkan pemanfaatan sumur-sumur baru atau sumur eksis dengan kapasitas aliran yang lebih besar.

Efisiensi Operasional: Mengurangi risiko kebocoran dan mempermudah manajemen distribusi fluida di wilayah kerja yang luas.

Detail Teknis dan Tantangan Konstruksi

Proses pemasangan pipa bawah laut sepanjang 21 kilometer ini melibatkan teknologi tinggi dan standar keamanan yang sangat ketat. Mengingat lokasinya yang berada di dasar laut, tim teknis harus menghadapi berbagai tantangan alam, mulai dari arus laut yang kuat, kondisi dasar laut yang tidak rata, hingga tekanan hidrostatik yang sangat tinggi.

Pengerjaan proyek ini menggunakan armada kapal khusus (pipelay vessel) yang dilengkapi dengan teknologi pemantauan bawah laut mutakhir. Setiap sambungan pipa melalui proses pengelasan dan pengujian non-destruktif (NDT) yang sangat teliti untuk memastikan tidak ada cacat sekecil apa pun sebelum pipa diturunkan ke dasar laut. Ketelitian ini sangat penting mengingat biaya perbaikan pipa di bawah laut jauh lebih tinggi dan kompleks dibandingkan di daratan.

Mendukung Target Produksi Migas Nasional

Pencapaian PHE ONWJ ini sejalan dengan visi besar Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk meningkatkan produksi migas nasional. Di tengah upaya transisi energi, penguatan produksi dari lapangan-lapangan yang sudah mapan (mature fields) seperti di wilayah North West Java menjadi sangat krusial untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri.

PHE ONWJ, sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina, memegang peran strategis dalam peta jalan energi nasional. Dengan infrastruktur yang lebih modern dan andal, perusahaan diharapkan mampu menekan biaya produksi per barel (lifting cost) dan memaksimalkan perolehan cadangan yang ada di wilayah kerja mereka.