DWJ Manajement - PORTAL

Potret Aktivitas Ojol Saat Prabowo Klaim Pendapatan Mereka Naik 3 Kali Lipat

Oleh: DWJ-Manajement 14 Aug 2026
Potret Aktivitas Ojol Saat Prabowo Klaim Pendapatan Mereka Naik 3 Kali Lipat

Narasi ini tentu menjadi angin segar bagi mereka yang merindukan kepastian hukum dan kesejahteraan dalam ekosistem gig economy. Namun, pertanyaan besarnya adalah: bagaimana mekanisme konkret untuk mencapai angka tersebut tanpa mematikan industri layanan transportasi itu sendiri?

Suara dari Aspal: Realita yang Berbeda di Lapangan

Berbeda dengan ruang-ruang rapat yang sejuk, realitas di lapangan menunjukkan potret yang jauh lebih kompleks. Di berbagai sudut kota, terlihat para pengemudi ojol yang masih berjuang dengan pendapatan yang "pas-pasan" untuk sekadar menutupi biaya bensin, perawatan motor, dan kebutuhan dapur sehari-hari.

Seorang pengemudi ojol berinisial AS (42) yang telah bergabung sejak era awal transportasi online, mengungkapkan skeptisismenya. Menurutnya, kenaikan pendapatan yang drastis seperti yang diklaim sangat sulit dicapai karena banyaknya faktor penghambat yang bersifat sistemik.

"Kalau dibilang bisa naik tiga kali lipat, ya kami senang mendengarnya. Tapi kenyataannya, sekarang saja cari orderan sudah susah. Saingan makin banyak, potongan aplikator tetap tinggi, dan biaya hidup terus naik. Kami tidak melihat ada tanda-tanda pendapatan kami naik signifikan belakangan ini," ujar AS saat ditemui di sebuah area tunggu pengemudi di Jakarta Selatan.

AS menambahkan bahwa masalah utama yang dihadapi bukan hanya soal tarif, melainkan ketidakpastian pendapatan. "Kadang seharian narik bisa dapat lumayan, tapi seringkali kita hanya 'nongkrong' berjam-jam hanya untuk menunggu satu atau dua orderan. Jika pendapatan naik tiga kali lipat, artinya orderan harus datang terus-menerus tanpa jeda, dan itu mustahil secara logika," tambahnya.

Tantangan Struktural yang Menghambat Kesejahteraan

Mengapa klaim kenaikan pendapatan tersebut terasa begitu jauh dari jangkauan para driver? Ada beberapa faktor krusial yang menjadi tembok penghalang:

Over-Supply Pengemudi: Jumlah pengemudi yang terus bertambah setiap tahunnya tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah pesanan, yang mengakibatkan persaingan antar-driver menjadi sangat ketat.

Biaya Operasional yang Melambung: Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan biaya perawatan kendaraan akibat inflasi secara langsung menggerus pendapatan bersih pengemudi.

Ketergantungan pada Algoritma: Pengemudi tidak memiliki kontrol atas sistem. Algoritma yang sering berubah-ubah seringkali membuat pengemudi merasa "dihukum" meski telah bekerja keras.