DWJ Manajement - PORTAL

Prabowo Minta Aset BUMN Nganggur Bisa Dimanfaatkan Swasta

Oleh: DWJ-Manajement 14 Aug 2026
Prabowo Minta Aset BUMN Nganggur Bisa Dimanfaatkan Swasta

```html

Prabowo Instruksikan Aset BUMN yang 'Tidur' Segera Dimanfaatkan Swasta demi Dongkrak Ekonomi

Langkah efisiensi besar-besaran, pemerintah siapkan penutupan ratusan BUMN tidak produktif dan dorong sinergi dengan sektor swasta.

Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dalam menata ulang struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Dalam arahan terbarunya, Presiden menekankan pentingnya optimalisasi aset negara agar tidak hanya menjadi beban bagi keuangan negara, tetapi mampu bertransformasi menjadi mesin penggerak ekonomi nasional melalui keterlibatan sektor swasta.

Kebijakan ini muncul di tengah perhatian publik terhadap banyaknya aset milik negara yang terindikasi "menganggur" atau tidak memberikan nilai tambah secara ekonomi. Pemerintah kini tengah mengkaji langkah efisiensi besar-besaran, termasuk rencana penutupan terhadap sekitar 290 unit BUMN yang dinilai tidak produktif dan hanya membebani anggaran negara.

Efisiensi Massal: Menutup 290 BUMN yang Tidak Produktif

Selama ini, keberadaan BUMN yang tidak berjalan secara optimal sering kali menjadi tantangan bagi stabilitas fiskal. Banyak dari entitas ini yang secara operasional mengalami kerugian terus-menerus, namun tetap mempertahankan struktur organisasi yang besar dan biaya operasional yang tinggi. Presiden Prabowo melihat bahwa pola ini harus segera dihentikan demi menjaga kesehatan APBN dan memastikan setiap rupiah aset negara bekerja secara maksimal.

Langkah penutupan 290 BUMN tidak produktif ini bukan sekadar upaya pengurangan jumlah perusahaan negara, melainkan bagian dari strategi restrukturisasi menyeluruh. Pemerintah ingin memastikan bahwa BUMN yang tetap berdiri adalah perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif, mampu bersaing di pasar global, dan memberikan kontribusi nyata berupa dividen bagi negara.

Beberapa alasan utama di balik kebijakan penutupan ini antara lain:

Inefisiensi Operasional: Banyak BUMN yang memiliki beban biaya tinggi tanpa dibarengi dengan pendapatan yang memadai.

Tumpang Tindih Fungsi: Adanya kemiripan lini bisnis antar BUMN yang justru menciptakan persaingan tidak sehat di dalam internal pemerintah.

Aset Terbengkalai: Banyak lahan, bangunan, dan infrastruktur milik BUMN yang tidak terkelola dengan baik sehingga mengalami depresiasi nilai.