Ekspansi Masif Energi Hijau, Prajogo Pangestu Bidik Akuisisi Raksasa Panas Bumi Filipina Senilai Rp90 Triliun
JAKARTA – Langkah ambisius kembali ditunjukkan oleh salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia bisnis Indonesia, Prajogo Pangestu. Melalui jejaring bisnisnya, sang miliarder dilaporkan tengah membidik akuisisi strategis terhadap Energy Development Corp. (EDC), raksasa penyedia energi panas bumi (geotermal) asal Filipina. Nilai kesepakatan yang diincar tidak main-main, yakni mencapai US$5 miliar atau setara dengan lebih dari Rp90 triliun.
Rencana akuisisi ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa, melainkan sebuah manuver besar untuk memperkuat dominasi grup bisnisnya di sektor energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara. Dengan menguasai aset strategis di Filipina, Prajogo Pangestu diprediksi akan semakin memperkokoh posisinya sebagai pemain utama dalam transisi energi hijau global.
Ambisi Mendominasi Pasar Energi Terbarukan di Asia Tenggara
Keputusan untuk melirik Energy Development Corp. (EDC) menunjukkan visi jangka panjang Prajogo Pangestu dalam menyelaraskan portofolio bisnisnya dengan tren dekarbonisasi dunia. EDC dikenal sebagai salah satu pemain kunci dalam industri panas bumi di Filipina, dengan berbagai aset pembangkit listrik yang sudah beroperasi secara stabil dan efisien.
Akuisisi senilai US$5 miliar ini akan menempatkan grup bisnis Prajogo dalam posisi yang sangat kuat untuk mengontrol pasokan energi bersih di kawasan regional. Asia Tenggara, dengan karakteristik geologisnya, memiliki potensi panas bumi yang sangat besar namun belum sepenuhnya tergarap secara maksimal. Filipina, sebagai salah satu negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia, menjadi pintu masuk yang sangat strategis.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa langkah ini dianggap sangat krusial bagi strategi bisnis Prajogo Pangestu:
Diversifikasi Portofolio: Mengalihkan fokus dari energi fosil ke energi terbarukan yang lebih berkelanjutan dan memiliki prospek jangka panjang.
Skala Ekonomi: Dengan memiliki aset berskala besar di luar negeri, perusahaan dapat mencapai efisiensi biaya melalui skala ekonomi yang lebih luas.
Ketahanan Energi Regional: Menguasai rantai pasok energi bersih di Asia Tenggara akan memberikan daya tawar tinggi di level internasional.
Pemenuhan Target ESG: Memenuhi kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi standar utama investor global.