Langkah ini dinilai sebagai strategi "double win", di mana pemerintah tidak hanya berhasil menjaga lingkungan melalui dekarbonisasi, tetapi juga memperkuat fundamental ekonomi nasional melalui efisiensi belanja negara.
Mendorong Kemandirian Energi dan Ketahanan Nasional
Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya menekankan bahwa kemandirian energi adalah fondasi utama dari kedaulatan sebuah bangsa. Selama ini, fluktuasi harga energi global seringkali membuat ekonomi domestik rentan terhadap guncangan eksternal. Dengan memanfaatkan potensi matahari yang melimpah di wilayah khatulistiwa, Indonesia memiliki peluang emas untuk memproduksi energi secara mandiri di dalam negeri.
Proyek PLTS 100 GWp ini dirancang untuk menciptakan jaringan energi yang lebih terdesentralisasi. Dengan menyebar titik-titik pembangkit tenaga surya di berbagai wilayah, risiko pemadaman listrik akibat kegagalan sistem terpusat dapat diminimalisir, sekaligus memastikan akses listrik yang lebih merata hingga ke pelosok daerah.
Penciptaan Lapangan Kerja Baru di Sektor Hijau (Green Jobs)
Selain dampak ekonomi makro, proyek raksasa ini juga diprediksi akan memberikan efek domino terhadap sektor ketenagakerjaan. Transisi menuju energi terbarukan akan membuka pintu bagi munculnya jutaan green jobs atau lapangan kerja hijau yang selama ini belum tergarap secara optimal di Indonesia.
Ekosistem industri PLTS akan membutuhkan tenaga kerja mulai dari tingkat teknis hingga ahli strategis, meliputi:
Sektor Manufaktur: Produksi panel surya, komponen inverter, hingga sistem penyimpanan energi (battery storage) di dalam negeri.
Sektor Konstruksi dan Instalasi: Ribuan tenaga ahli untuk pembangunan infrastruktur pembangkit di berbagai lokasi.