DWJ Manajement - PORTAL

Purbaya Akui Ekonomi Terdampak Deretan Bencana Karhutla-Erupsi

Oleh: DWJ-Manajement • 07 Sep 2026
Purbaya Akui Ekonomi Terdampak Deretan Bencana Karhutla-Erupsi

Sektor Pariwisata: Penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke daerah-daerah terdampak bencana.

Mengapa Ekonomi Tetap Diprediksi Tangguh?

Meskipun mengakui adanya gangguan, Purbaya menegaskan bahwa mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat. Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia yang sangat bergantung pada konsumsi domestik menjadi banteng pertahanan utama dalam menghadapi guncangan eksternal maupun bencana alam domestik.

Konsumsi rumah tangga di Indonesia mencakup porsi yang sangat besar dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Selama daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi dapat dikendalikan, maka fluktuasi ekonomi akibat bencana di wilayah tertentu cenderung bersifat terlokalisasi. Artinya, dampak ekonomi dari bencana di satu daerah tidak akan langsung melumpuhkan seluruh aktivitas ekonomi di provinsi atau pulau lainnya.

Faktor-Faktor Penopang Resiliensi Ekonomi

Ada beberapa faktor fundamental yang membuat Purbaya yakin bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan melambat secara signifikan:

Pertama, stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga. Kebijakan moneter yang pruden dari Bank Indonesia serta kebijakan fiskal pemerintah yang berfokus pada jaring pengaman sosial membantu menjaga stabilitas harga. Kedua, diversifikasi ekonomi. Indonesia tidak hanya bergantung pada satu sektor, sehingga ketika satu sektor terdampak bencana, sektor lain dapat tetap bergerak secara normal.

Ketiga, kemampuan adaptasi pelaku usaha. Seiring dengan kemajuan teknologi dan manajemen risiko, banyak perusahaan di Indonesia yang kini memiliki protokol mitigasi bencana yang lebih baik. Hal ini memungkinkan mereka untuk memulihkan operasional dalam waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan dekade-dekade sebelumnya.

Tantangan Mitigasi dan Efek Domino Jangka Panjang

Walaupun optimisme tetap ada, pemerintah dan pemangku kepentingan tidak boleh meremehkan dampak dari bencana-bencana ini. Purbaya mengingatkan bahwa risiko terbesar bukan terletak pada guncangan sesaat, melainkan pada efek domino jangka panjang jika mitigasi tidak dilakukan dengan serius.

Jika Karhutla terjadi secara berulang setiap tahun, hal ini akan menciptakan persepsi risiko yang tinggi bagi investor di sektor agrikultur. Investor mungkin akan ragu untuk menanamkan modalnya di wilayah yang dianggap rentan terhadap bencana, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan investasi jangka panjang. Begitu pula dengan erupsi gunung berapi yang jika tidak disertai dengan pemetaan zona risiko yang akurat, dapat menyebabkan kerugian infrastruktur yang masif.