DWJ Manajement - PORTAL

RI Kejar IEU CEPA Mulai Tahun Depan, 90,4% Pos Tarif Langsung Jadi 0%

Oleh: DWJ-Manajement 21 Aug 2026
RI Kejar IEU CEPA Mulai Tahun Depan, 90,4% Pos Tarif Langsung Jadi 0%

Dengan mayoritas pos tarif yang langsung menyentuh angka nol, berbagai sektor industri nasional diprediksi akan menjadi pemenang utama dalam skema IEU CEPA ini. Beberapa sektor yang diproyeksikan akan mengalami lonjakan ekspor antara lain:

1. Sektor Pertanian dan Perkebunan

Produk seperti kopi, rempah-rempah, kelapa sawit (dengan catatan pemenuhan standar keberlanjutan), dan produk turunan kakao memiliki potensi besar untuk mendominasi pasar Eropa jika hambatan tarif disingkirkan.

2. Sektor Manufaktur dan Tekstil

Industri tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar. Dengan tarif 0 persen, produk fashion Indonesia dapat bersaing langsung dengan pemain besar dari negara-negara Asia lainnya di pasar retail Eropa.

3. Sektor Produk Pengolahan Kelautan

Sebagai negara maritim, produk perikanan Indonesia memiliki nilai tinggi di pasar Uni Eropa. Penghapusan tarif akan memudahkan masuknya produk olahan laut ke supermarket-supermarket di negara-negara seperti Jerman, Prancis, dan Belanda.

4. Sektor Industri Kreatif dan Furnitur

Produk kerajinan tangan dan furnitur berbahan kayu berkelanjutan juga menjadi salah satu komoditas yang sangat diminati oleh konsumen di Eropa yang sangat menghargai estetika dan aspek lingkungan.

Mengapa IEU CEPA Menjadi Prioritas Nasional?

Uni Eropa merupakan salah satu blok ekonomi terbesar di dunia dengan daya beli masyarakat yang sangat tinggi. Memasuki pasar ini secara formal dan dengan skema perdagangan bebas merupakan langkah strategis untuk mendiversifikasi pasar ekspor Indonesia agar tidak hanya bergantung pada negara-negara mitra tradisional seperti Tiongkok atau Amerika Serikat.

Selain itu, IEU CEPA tidak hanya bicara soal ekspor barang, tetapi juga mencakup kerja sama di bidang investasi, jasa, dan transfer teknologi. Dengan adanya perjanjian ini, Indonesia diharapkan dapat menarik lebih banyak investasi langsung dari perusahaan-perusahaan Eropa yang ingin menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk melayani pasar global, termasuk pasar Eropa itu sendiri.

Namun, pemerintah juga menyadari bahwa tantangan tidak hanya terletak pada tarif. Uni Eropa dikenal memiliki standar yang sangat tinggi terkait regulasi teknis, keamanan pangan, hingga isu lingkungan. Oleh karena itu, negosiasi ini juga mencakup penyelarasan standar agar produk Indonesia tidak hanya murah secara tarif, tetapi juga memenuhi kualifikasi kualitas yang diminta pasar Eropa.

Tantangan di Balik Peluang Emas: Standar dan Non-Tarif