DWJ Manajement - PORTAL

Rupiah Gampang Goyang Lawan Dolar? Destry Ungkap Biang Keroknya

Oleh: DWJ-Manajement • 28 Sep 2026
Rupiah Gampang Goyang Lawan Dolar? Destry Ungkap Biang Keroknya

Mengapa Rupiah Terus Tertekan Dolar AS? Gubernur BI Destry Damayanti Buka Suara Soal 'Biang Keroknya'

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kembali menjadi sorotan utama di pasar keuangan domestik. Fluktuasi yang terjadi belakangan ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar dan masyarakat: mengapa mata uang Garuda tampak begitu rentan dan mudah goyang saat berhadapan dengan penguatan Dolar AS?

Menanggapi dinamika tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan penjelasan mendalam mengenai kondisi fundamental yang membayangi stabilitas nilai tukar nasional. Menurut Destry, salah satu faktor kunci yang membuat Rupiah rentan terhadap tekanan eksternal adalah kondisi defisit pada transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Defisit Transaksi Berjalan: Faktor Fundamental di Balik Kerentanan Rupiah

Dalam ekonomi makro, transaksi berjalan mencerminkan hubungan perdagangan dan transaksi keuangan suatu negara dengan negara lain. Jika sebuah negara mengalami defisit transaksi berjalan, artinya jumlah uang yang mengalir keluar dari negara tersebut (untuk impor barang, jasa, dan pembayaran pendapatan ke luar negeri) lebih besar daripada jumlah uang yang masuk (melalui ekspor dan penerimaan lainnya).

Destry Damayanti menekankan bahwa kondisi defisit ini menciptakan tekanan langsung terhadap permintaan mata uang domestik. Ketika permintaan terhadap Rupiah rendah sementara kebutuhan akan Dolar AS tinggi untuk membiayai kebutuhan impor atau pembayaran utang luar negeri, maka secara otomatis nilai tukar Rupiah akan terdepresiasi.

Kondisi ini diperparah apabila pertumbuhan ekonomi nasional sangat bergantung pada komponen impor, baik itu bahan baku industri maupun barang konsumsi. Berikut adalah beberapa alasan mengapa defisit transaksi berjalan menjadi "biang kerok" utama:

Kesenjangan Neraca Perdagangan: Penurunan volume ekspor komoditas unggulan atau kenaikan drastis harga barang impor dapat memperlebar defisit.

Kebutuhan Likuiditas Dolar: Perusahaan dalam negeri yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing harus membeli Dolar di pasar spot, yang meningkatkan permintaan Dolar dan menekan Rupiah.

Sentimen Investor: Defisit yang terlalu lebar seringkali dianggap sebagai sinyal risiko bagi investor asing, yang kemudian cenderung menarik modalnya dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset yang lebih aman (safe haven) seperti Dolar AS.

Mekanisme Tekanan terhadap Nilai Tukar

Secara teknis, defisit transaksi berjalan mengurangi cadangan devisa negara jika tidak diimbangi dengan aliran modal masuk (capital inflow) yang kuat. Ketika cadangan devisa menipis, kemampuan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi di pasar valas guna menjaga stabilitas nilai tukar menjadi terbatas. Inilah yang seringkali membuat pergerakan Rupiah terlihat sangat volatil dan sulit diprediksi dalam jangka pendek.