DWJ Manajement - PORTAL

Saat IHSG Anjlok, Asing Ternyata Berburu Saham Ini

Oleh: DWJ-Manajement 09 Jul 2026
Saat IHSG Anjlok, Asing Ternyata Berburu Saham Ini

Dari sekian banyak saham yang menjadi incaran, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) muncul sebagai primadona utama. Di saat indeks sedang limbung, BBCA justru menjadi magnet bagi aliran dana asing. Tercatat, dalam sesi perdagangan tersebut, BBCA mengalami net buy (beli bersih) oleh investor asing dengan nilai yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp251,9 miliar.

Angka ini menunjukkan kepercayaan yang luar biasa dari pemodal global terhadap ketahanan bisnis BBCA. Sebagai pemimpin pasar di sektor perbankan swasta Indonesia, BBCA dianggap sebagai representasi stabilitas ekonomi nasional. Berikut adalah beberapa alasan mengapa asing tetap setia memburu BBCA meski pasar sedang merah:

Fundamental yang Tak Tergoyahkan: BBCA memiliki manajemen risiko yang sangat ketat dan kualitas aset yang terjaga, menjadikannya benteng pertahanan utama saat ekonomi bergejolak.

Likuiditas Tinggi: Saham BBCA adalah salah satu saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga memudahkan investor asing untuk masuk maupun keluar dalam jumlah besar tanpa merusak harga secara ekstrem.

Indikator Ekonomi: Pergerakan BBCA sering kali menjadi barometer kesehatan sektor keuangan di Indonesia. Akumulasi pada BBCA menandakan bahwa investor asing masih optimis terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Dividen yang Konsisten: Ketertarikan asing juga didorong oleh rekam jejak BBCA yang rutin membagikan dividen, memberikan imbal hasil yang menarik di samping potensi capital gain.

Mengapa Investor Asing Berbeda dengan Investor Ritel?

Perbedaan perilaku antara investor asing dan ritel dalam menghadapi penurunan pasar sering kali disebabkan oleh perbedaan cakrawala waktu (time horizon) dan metodologi analisis. Investor ritel umumnya lebih cenderung melakukan analisis teknikal jangka pendek dan sangat dipengaruhi oleh psikologi pasar (fear and greed). Ketika melihat harga turun, insting pertama yang muncul adalah proteksi modal dengan cara menjual saham.

Di sisi lain, investor asing, terutama yang berbentuk dana kelolaan (hedge funds atau mutual funds), cenderung menggunakan pendekatan fundamental dan makro. Mereka tidak melihat penurunan 1-2 persen sebagai sebuah kehancuran, melainkan sebagai peluang untuk mendapatkan harga rata-rata (average down) yang lebih baik. Bagi mereka, membeli saham berkualitas tinggi saat harganya sedang terdiskon adalah kunci utama untuk meraih keuntungan maksimal di masa depan.

Selain itu, investor asing memiliki kapasitas modal yang jauh lebih besar untuk melakukan akumulasi secara bertahap tanpa menyebabkan lonjakan harga yang tidak wajar. Hal inilah yang membuat mereka mampu bergerak secara senyap namun berdampak besar pada struktur kepemilikan saham suatu emiten.