Pertama, faktor siklus IPO. Sering kali, saham-saham yang baru melantai di bursa mengalami lonjakan harga yang tidak wajar karena adanya "hype" atau pembicaraan yang masif di media sosial dan komunitas investor. Ketika antusiasme tersebut mulai mencapai puncaknya, investor awal yang mendapatkan harga murah cenderung melakukan aksi ambil untung secara serentak. Ketika jumlah penjual jauh lebih banyak daripada pembeli, harga akan terjun bebas secara otomatis.
Kedua, adanya kekhawatiran terhadap fundamental perusahaan. Setelah euforia IPO mereda, mata investor akan mulai beralih pada kinerja keuangan yang nyata. Jika perusahaan yang baru IPO tersebut tidak mampu menunjukkan pertumbuhan kinerja yang sesuai dengan proyeksi awal saat masa penawaran, maka investor akan segera kehilangan kepercayaan. Hal ini sering kali memicu aksi jual karena investor menilai valuasi saham sudah terlalu mahal dibandingkan dengan nilai fundamental aslinya.
Aksi Profit Taking: Investor yang sudah mendapatkan keuntungan signifikan sejak harga IPO cenderung segera merealisasikan keuntungan mereka.
Sentimen Pasar Global dan Domestik: Kondisi ekonomi makro yang tidak menentu dapat membuat investor lebih berhati-hati dan cenderung memilih untuk memegang aset yang lebih aman (safe haven).
Ketidakpastian Kinerja Keuangan: Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan bisnis perusahaan setelah modal dari IPO digunakan.
Tekanan Likuiditas: Adanya kebutuhan dana mendesak dari investor besar yang memaksa mereka menjual aset yang sedang mereka miliki.
Pentingnya Analisis Fundamental di Tengah Volatilitas
Kejadian yang menimpa JELI dan BACH menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pelaku pasar modal di Indonesia. Fenomena ini menegaskan bahwa mengandalkan "hype" atau sekadar mengikuti tren tanpa didasari oleh analisis yang mendalam adalah strategi yang sangat berisiko tinggi.
Mengenali Risiko Investasi pada Saham IPO
Investasi pada saham yang baru IPO memiliki profil risiko yang unik. Di satu sisi, potensi keuntungan (capital gain) sangat besar karena adanya potensi lonjakan harga yang drastis. Namun di sisi lain, volatilitasnya juga sangat luar biasa. Tanpa riwayat harga yang panjang di bursa, investor sering kali kesulitan menentukan harga wajar dari sebuah saham baru. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi investor untuk tidak terjebak dalam FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan ketinggalan momen.