Tahap Pencacahan: Sampah plastik atau limbah organik dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil agar proses pemanasan lebih merata dan efisien.
Tahap Reaksi Pirolisis: Material dimasukkan ke dalam reaktor tertutup dan dipanaskan pada suhu berkisar antara 300 hingga 500 derajat Celsius dalam kondisi kedap udara.
Tahap Kondensasi: Uap yang dihasilkan dari proses pemanasan kemudian dialirkan melalui sistem pendingin (kondensor). Uap ini akan berubah wujud kembali menjadi cairan.
Tahap Distilasi: Cairan yang dihasilkan kemudian melalui proses distilasi atau penyulingan untuk memisahkan fraksi-fraksinya menjadi bensin, solar, atau minyak jenis lainnya sesuai dengan titik didih masing-masing.
Hasil dari proses ini adalah minyak mentah hasil pirolisis yang kemudian dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan bakar yang layak digunakan untuk mesin diesel maupun mesin bensin ringan.
Potensi Ekonomi dan Dampak Lingkungan
Implementasi teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar membawa dampak positif yang bersifat multidimensional. Tidak hanya dari sisi teknis, namun juga dari sisi ekonomi dan ekologi.
Keuntungan Utama dari Teknologi Waste-to-Energy
Ada beberapa manfaat konkret yang dapat dirasakan jika teknologi ini diterapkan secara masif di Indonesia:
Reduksi Volume Sampah secara Drastis: Teknologi ini mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA hingga lebih dari 80 persen, sehingga memperpanjang usia pakai TPA yang ada.
Penciptaan Nilai Ekonomi Baru (Circular Economy): Sampah yang dulunya merupakan biaya (cost) bagi pemerintah daerah, kini berubah menjadi aset (asset) yang menghasilkan pendapatan melalui penjualan bahan bakar.