DWJ Manajement - PORTAL

Sekolah Libur Imbas Karhutla, BGN Pastikan Program MBG Stop Sementara

Oleh: DWJ-Manajement 26 Aug 2026
Sekolah Libur Imbas Karhutla, BGN Pastikan Program MBG Stop Sementara

Karhutla Meluas, Sekolah Diliburkan: Badan Gizi Nasional Hentikan Sementara Program Makan Bergizi Gratis

Dampak kabut asap dan risiko kesehatan yang meningkat membuat distribusi makanan di sekolah terhenti hingga situasi dinyatakan kondusif.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kian meluas di sejumlah wilayah Indonesia telah membawa dampak berantai yang cukup signifikan. Selain mengancam ekosistem dan kesehatan masyarakat, bencana ini juga memaksa otoritas setempat untuk mengambil langkah darurat, salah satunya adalah meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terdampak kabut asap pekat.

Kondisi ini secara langsung memengaruhi jalannya program strategis nasional, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi mengonfirmasi bahwa program distribusi makanan tersebut harus dihentikan sementara di wilayah-wilayah yang mengalami penutupan sekolah akibat bencana Karhutla.

Sinkronisasi Program MBG dengan Kalender Akademik

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang sebagai intervensi gizi berbasis sekolah. Artinya, titik distribusi utama, mekanisme pemantauan, hingga sasaran penerima manfaat (siswa) berpusat pada institusi pendidikan formal. Oleh karena itu, keberlangsungan program ini sangat bergantung pada aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Ketika pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan sekolah demi melindungi kesehatan siswa dari paparan kabut asap, secara otomatis ekosistem distribusi MBG mengalami kendala teknis. BGN menjelaskan bahwa menghentikan program sementara adalah langkah yang logis dan terukur, mengingat target utama program ini adalah siswa yang sedang berada di lingkungan sekolah.

Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa program MBG tidak dapat berjalan saat sekolah diliburkan:

Target Sasaran Tidak di Lokasi: Siswa berada di rumah masing-masing, sehingga distribusi di sekolah menjadi tidak efektif.

Kendala Logistik: Jalur distribusi makanan menuju sekolah seringkali mengalami hambatan akibat jarak pandang yang terbatas atau akses jalan yang terdampak asap.

Risiko Keamanan Distribusi: Menggerakkan armada distribusi di tengah kondisi kabut asap yang pekat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas bagi petugas lapangan.