DWJ Manajement - PORTAL

Sempat Runtuh 2018, Gunung Anak Krakatau Kini Tumbuh Lagi

Oleh: DWJ-Manajement • 25 Sep 2026
Sempat Runtuh 2018, Gunung Anak Krakatau Kini Tumbuh Lagi

Akumulasi Material Erupsi: Setiap kali terjadi erupsi, baik berupa letusan eksplosif maupun aliran lava, material seperti abu, lapili, dan lava akan menumpuk di sekitar kawah.

Pembentukan Kerucut Baru: Material yang menumpuk secara konsisten akan membentuk struktur kerucut (cone) yang baru. Bentuk ini sering kali berbeda dengan bentuk asli sebelum runtuh karena pola sebaran material yang dipengaruhi oleh arah angin dan karakteristik erupsi.

Stabilisasi Lereng: Melalui siklus erupsi yang terkontrol, gunung secara perlahan membangun kembali stabilitas lerengnya, meskipun risiko ketidakstabilan tetap ada selama proses pertumbuhan berlangsung.

Perubahan Morfologi yang Signifikan

Para peneliti mencatat bahwa morfologi Anak Krakatau saat ini menunjukkan karakteristik yang sangat berbeda. Jika sebelumnya gunung ini memiliki profil yang mungkin lebih landai di beberapa sisi, struktur yang baru terbentuk kini cenderung lebih curam dan menunjukkan pusat erupsi yang telah bergeser. Perubahan ini merupakan respons alami dari sistem magma yang mencoba mencari jalan keluar setelah terjadi perubahan struktur ruang di bawah kawah.

Dinamika Aktivitas Vulkanik dan Pengawasan Ketat

Pertumbuhan Anak Krakatau tidak terjadi secara instan, melainkan melalui serangkaian aktivitas vulkanik yang fluktuatif. Terkadang gunung menunjukkan aktivitas tenang, namun di waktu lain, terjadi peningkatan kegempaan yang menandakan adanya pergerakan magma menuju permukaan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan 24 jam melalui berbagai instrumen canggih. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa fase pertumbuhan ini tetap dalam pemantauan dan tidak memicu bencana serupa di masa depan. Beberapa instrumen yang digunakan meliputi:

Seismometer: Untuk mendeteksi gempa vulkanik yang menandakan pergerakan magma.

Tiltmeter: Untuk mengukur perubahan kemiringan atau deformasi tubuh gunung.