Namun, banyak pihak meyakini bahwa pengalaman Sarmuji dalam mengelola struktur organisasi yang masif akan memudahkannya dalam menavigasi birokrasi di kementerian. Kemampuan koordinasi lintas sektoral yang ia asah selama menjabat Sekjen akan menjadi kunci dalam mensinergikan kebijakan kementerian dengan kementerian lain, seperti Kementerian Investasi/BKPM, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan.
Tantangan Besar di Depan Mata: Hilirisasi dan Transformasi Digital
Menjabat sebagai Menteri Perindustrian di era saat ini berarti memikul beban berat untuk melanjutkan dan memperkuat agenda hilirisasi industri yang telah dicanangkan pemerintah. Sarmuji dihadapini dengan tugas untuk memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan harus diolah di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah yang maksimal.
Beberapa fokus utama yang diprediksi akan menjadi prioritas di bawah kepemimpinan Sarmuji meliputi:
Percepatan Hilirisasi Komoditas: Tidak hanya berhenti di sektor nikel, namun merambah ke sektor bauksit, tembaga, hingga hasil pertanian dan kelautan.
Penguatan Industri Kecil dan Menengah (IKM): Mengintegrasikan IKM ke dalam rantai pasok industri besar agar mereka tidak hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi.
Implementasi Industri 4.0: Mendorong digitalisasi manufaktur melalui penggunaan IoT, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi untuk meningkatkan daya saing global.
Ketahanan Energi dan Industri Hijau: Mengarahkan sektor industri menuju praktik yang lebih ramah lingkungan (green industry) guna memenuhi standar perdagangan global yang semakin ketat terhadap emisi karbon.
Peningkatan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri): Memastikan produk-produk yang beredar di pasar domestik memiliki kandungan lokal yang tinggi guna mengurangi ketergantungan pada impor.