Desil 1 hingga Desil 4: Kelompok ini umumnya merepresentasikan masyarakat dengan tingkat ekonomi terendah. Desil 1 sering kali diidentikkan dengan kelompok masyarakat miskin ekstrem yang membutuhkan bantuan sosial secara intensif untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan dan kesehatan.
Desil 5 hingga Desil 7: Kelompok ini merupakan kelompok menengah ke bawah atau masyarakat yang rentan. Mereka mungkin tidak masuk dalam kategori miskin ekstrem, namun sangat rentan jatuh ke jurang kemiskinan jika terjadi guncangan ekonomi, seperti kenaikan harga BBM atau kehilangan pekerjaan.
Desil 8 hingga Desil 10: Kelompok ini merepresentasikan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tinggi atau kelas menengah ke atas. Kelompok ini dianggap memiliki ketahanan finansial yang cukup dan biasanya tidak menjadi sasaran utama dalam program bantuan sosial pemerintah.
Mengapa Desil Menjadi Sorotan Tajam Masyarakat?
Ada beberapa alasan fundamental mengapa istilah desil ini kini menjadi perhatian serius. Bukan hanya karena rasa ingin tahu, tetapi karena adanya implikasi langsung terhadap hak-hak ekonomi warga negara.
1. Penentu Kelayakan Bantuan Sosial (Bansos)
Di Indonesia, penyaluran bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), hingga subsidi listrik sangat bergantung pada data kemiskinan yang dikelola pemerintah. Data ini sering kali merujuk pada klasifikasi desil dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Ketika seseorang merasa dirinya layak menerima bantuan namun berada di desil yang salah (terlalu tinggi), hal ini akan menimbulkan kecemburuan sosial dan ketidakadilan yang nyata.
2. Fenomena "The Missing Middle" atau Kelompok Menengah yang Terjepit