Beberapa tantangan utama yang harus dihadapi untuk mengejar target tersebut antara lain:
Ketergantungan pada Komoditas: Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas yang harganya fluktuatif di pasar global.
Kualitas Investasi: Meskipun angka investasi meningkat, tantangannya adalah bagaimana investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan nilai tambah domestik.
Daya Beli Masyarakat: Inflasi yang tidak terkendali dapat menggerus daya beli, yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Geopolitik Global: Ketegangan di berbagai belahan dunia menciptakan ketidakpastian rantai pasok dan arus modal keluar (capital outflow).
Mengawal 'Kocek Negara' di Tengah Ketidakpastian
Selama satu tahun menjabat, fokus utama Purbaya adalah memastikan "kocek negara" atau kas negara tetap sehat sambil tetap memberikan ruang untuk ekspansi ekonomi. Ia menghadapi dilema klasik: menjaga defisit anggaran tetap sesuai undang-undang, namun di sisi lain harus menyediakan dana yang cukup untuk proyek-proyek strategis nasional dan perlindungan sosial.
Pendekatan Purbaya dalam mengelola pendapatan negara pun tidak kalah agresif. Ia mendorong reformasi perpajakan yang lebih efisien tanpa harus membebani sektor usaha yang sedang tumbuh. Digitalisasi sistem perpajakan menjadi salah satu instrumen yang ia dorong untuk menutup kebocoran pendapatan negara.
Di sisi belanja, Purbaya menekankan pentingnya efisiensi. Ia tidak segan-segan melakukan pemangkasan pada belanja birokrasi yang dianggap tidak berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi, agar alokasi dana dapat dialihkan ke sektor-sektor yang memiliki multiplier effect tinggi, seperti infrastruktur dasar dan pengembangan sumber daya manusia.