Menunggu Penurunan Harga: Investor memantau pergerakan pasar hingga harga saham yang bersangkutan mengalami penurunan.
Pembelian Kembali (Covering): Investor membeli kembali saham tersebut di harga yang lebih rendah.
Pengembalian Saham: Saham yang dibeli kembali dikembalikan kepada pemilik asli, dan selisih antara harga jual awal dengan harga beli kembali menjadi laba bersih investor.
Kapan Investor Menggunakan Short Selling?
Strategi ini biasanya digunakan saat kondisi pasar sedang bearish atau cenderung menurun. Investor short seller tidak mencari keuntungan saat ekonomi sedang tumbuh pesat, melainkan mencari peluang di tengah koreksi pasar atau saat sebuah emiten sedang mengalami sentimen negatif yang kuat. Ini adalah alat yang sangat efektif untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap portofolio yang sedang mengalami penurunan nilai.
Risiko Tinggi di Balik Keuntungan Besar
Meskipun menawarkan potensi keuntungan yang sangat menarik di tengah pasar yang lesu, short selling sering disebut sebagai "pedang bermata dua". Ada alasan kuat mengapa BEI mewajibkan modal Rp 50 juta bagi pelakunya. Risiko dalam short selling tidaklah linear seperti transaksi beli saham biasa.
Berikut adalah beberapa risiko utama yang wajib diwaspadai:
Potensi Kerugian Tak Terbatas: Jika Anda membeli saham (long position), kerugian maksimal Anda adalah sebesar modal yang Anda investasikan (jika harga saham menjadi nol). Namun, dalam short selling, jika harga saham terus meroket dan tidak kunjung turun, secara teori tidak ada batas atas untuk kerugian Anda.
Short Squeeze: Ini adalah fenomena di mana harga saham tiba-tiba naik dengan sangat cepat karena banyak short seller secara bersamaan mencoba menutup posisi mereka dengan membeli kembali saham tersebut. Hal ini justru akan memicu kenaikan harga yang lebih ekstrem, menjebak para short seller dalam kerugian besar.
Biaya Pinjaman (Margin Interest): Karena Anda meminjam saham, ada biaya bunga atau biaya pinjaman yang harus dibayar kepada broker. Jika harga saham tidak bergerak turun dalam waktu yang diharapkan, biaya ini dapat menggerus modal Anda.
Risiko Margin Call: Broker akan terus memantau posisi Anda. Jika nilai portofolio Anda turun di bawah batas tertentu akibat kenaikan harga saham, broker akan melakukan margin call yang memaksa Anda untuk menambah dana atau menutup posisi secara paksa pada harga yang merugikan.