DWJ Manajement - PORTAL

Skema Buka-Tutup Jadi Jalan Tengah Akses Bendungan Lahor

Oleh: DWJ-Manajement 06 Aug 2026
Skema Buka-Tutup Jadi Jalan Tengah Akses Bendungan Lahor

Polemik Akses Bendungan Lahor: Skema Buka-Tutup Jadi Titik Temu di Tengah Protes Warga

Upaya mencari jalan tengah terkait penutupan akses jalan di atas Bendungan Lahor, Kabupaten Malang, mulai menemui titik terang melalui penerapan skema buka-tutup.

Ketegangan di Kabupaten Malang Terkait Penutupan Akses Bendungan

Kabupaten Malang kembali diramaikan oleh dinamika sosial terkait pengelolaan infrastruktur vital. Sejak 1 Agustus 2026, kebijakan penutupan akses jalan yang melintasi bagian atas Bendungan Lahor telah memicu gelombang protes dari warga setempat. Kebijakan yang diambil oleh pihak pengelola bendungan tersebut dinilai telah memutus urat nadi mobilitas masyarakat yang selama ini bergantung pada jalur tersebut.

Akses jalan di atas bendungan bukan sekadar jalur penghubung biasa bagi warga di sekitar kawasan Lahor. Jalur ini merupakan akses utama bagi petani untuk mengangkut hasil bumi, pedagang untuk mendistribusikan barang, hingga akses rutin bagi warga untuk aktivitas sehari-hari. Penutupan total yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa sosialisasi yang mendalam dianggap tidak berpihak pada kepentingan ekonomi rakyat kecil.

Situasi sempat memanas ketika kelompok warga melakukan aksi penyampaian aspirasi. Mereka menuntut agar pemerintah dan pengelola bendungan segera membuka kembali akses tersebut. Bagi warga, penutupan jalan ini bukan hanya soal ketidaknyamanan perjalanan, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga mereka.

Dampak Sosial dan Ekonomi yang Signifikan

Ketidakpastian akses jalan selama beberapa pekan terakhir telah menciptakan efek domino di berbagai sektor ekonomi di wilayah sekitar Bendungan Lahor. Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa dampak utama yang dirasakan masyarakat antara lain:

Meningkatnya Biaya Logistik: Warga terpaksa mengambil jalur alternatif yang jauh lebih panjang dan memiliki medan yang lebih menantang, yang berakibat pada membengkaknya biaya bahan bakar dan waktu tempuh.

Terhambatnya Distribusi Hasil Pertanian: Para petani mengeluhkan sulitnya membawa hasil panen ke pasar, yang pada akhirnya menurunkan kualitas komoditas dan harga jual di tingkat petani.