DWJ Manajement - PORTAL

Soal BUMN, Presiden Prabowo Bikin Kaget Asing

Oleh: DWJ-Manajement 18 Sep 2026
Soal BUMN, Presiden Prabowo Bikin Kaget Asing

Gebrak Sektor BUMN, Presiden Prabowo Targetkan Penutupan 750 Perusahaan: Langkah Efisiensi atau Risiko Besar?

JAKARTA - Arah kebijakan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan taringnya. Tak sekadar retorika, Presiden Prabowo secara mengejutkan mengumumkan langkah drastis dalam menata ulang struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam sebuah pernyataan strategis, pemerintah menargetkan program streamlining atau perampingan besar-besaran yang mencakup penutupan hingga 750 perusahaan negara.

Langkah ini seketika menjadi sorotan tajam, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di mata dunia internasional. Keputusan untuk memangkas jumlah perusahaan negara dalam jumlah yang masif ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah ingin mengakhiri era "BUMN gemuk" yang selama ini dinilai tidak efisien dan seringkali membebani APBN.

Ambisi Perampingan: Mengakhiri Era BUMN yang Tidak Efisien

Selama bertahun-tahun, struktur BUMN di Indonesia sering dikritik karena mengalami tumpang tindih fungsi (overlapping) antar satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Banyak perusahaan negara yang memiliki lini bisnis serupa, namun beroperasi secara terpisah, yang pada akhirnya justru memicu inefisiensi biaya dan persaingan internal yang tidak sehat.

Presiden Prabowo menekankan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah pada kualitas, bukan kuantitas. Dengan menargetkan penutupan atau penggabungan (merger) terhadap 750 perusahaan, pemerintah berupaya menciptakan struktur BUMN yang lebih ramping, lincah, dan memiliki daya saing global yang tinggi.

Menurut sumber internal pemerintah, alasan utama di balik kebijakan ini adalah:

Eliminasi Inefisiensi: Menghapus biaya operasional pada perusahaan-perusahaan yang terus-menerus merugi dan tidak memiliki prospek bisnis yang jelas.

Penyatuan Kekuatan (Konsolidasi): Menggabungkan sektor-sektor strategis agar memiliki skala ekonomi yang lebih besar untuk bersaing di pasar internasional.

Optimalisasi APBN: Mengurangi ketergantungan perusahaan BUMN yang bermasalah terhadap suntikan dana negara atau Penyertaan Modal Negara (PMN).

Fokus pada Sektor Strategis: Mengalihkan sumber daya negara ke sektor-sektor vital seperti ketahanan pangan, energi, dan teknologi yang menjadi pilar utama visi Asta Cita.