DWJ Manajement - PORTAL

Starbucks Tutup 250 Gerai, Keluar Duit Rp 5,3 T, PHK Massal Mengintai

Oleh: DWJ-Manajement • 25 Sep 2026
Starbucks Tutup 250 Gerai, Keluar Duit Rp 5,3 T, PHK Massal Mengintai

Strategi Penyelamatan atau Sinyal Bahaya? Starbucks Tutup 250 Gerai di AS, Siapkan Dana Rp 5,3 Triliun

Langkah restrukturisasi besar-besaran ini memicu kekhawatiran akan gelombang PHK massal di tengah upaya pemulihan bisnis perusahaan kopi raksasa tersebut.

Raksasa kopi dunia, Starbucks, tengah mengambil langkah drastis yang mengejutkan para investor dan pelaku industri ritel global. Perusahaan yang berbasis di Seattle ini mengonfirmasi rencana untuk menutup sekitar 250 gerainya di Amerika Serikat. Langkah ini bukan sekadar penutupan toko biasa, melainkan sebuah bagian dari strategi restrukturisasi besar-besaran yang bertujuan untuk memulihkan performa bisnis di tengah tekanan pasar yang semakin kompetitif.

Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat serta kebutuhan perusahaan untuk melakukan optimasi terhadap portofolio lokasinya. Meskipun angka 250 gerai hanya merepresentasikan sekitar 1% dari total 18.000 lokasi yang dimiliki Starbucks di seluruh Amerika Utara, dampak finansial dan psikologis dari langkah ini sangatlah signifikan.

Penutupan Gerai: Bagian dari Optimasi Portofolio Bisnis

Dalam laporan terbarunya, pihak manajemen Starbucks menjelaskan bahwa penutupan gerai-gerai tersebut merupakan bagian dari strategi "optimasi toko". Perusahaan merasa perlu untuk mengevaluasi kembali efektivitas setiap titik penjualan guna memastikan bahwa setiap lokasi mampu memberikan kontribusi profitabilitas yang optimal.

Beberapa faktor yang melatarbelakangi keputusan penutupan ini antara lain:

Perubahan Perilaku Konsumen: Adanya pergeseran tren di mana konsumen kini lebih memilih layanan drive-thru atau pemesanan digital dibandingkan duduk di dalam kafe (dine-in).

Efisiensi Operasional: Beberapa lokasi dianggap tidak lagi memenuhi standar efisiensi biaya operasional dibandingkan dengan potensi pendapatan yang dihasilkan.

Persaingan yang Ketat: Munculnya kedai kopi lokal dan rantai kopi cepat saji lainnya yang menawarkan harga lebih kompetitif serta konsep yang lebih relevan dengan gaya hidup generasi muda.

Dengan menutup gerai yang dianggap kurang produktif, Starbucks berharap dapat mengalihkan sumber daya dan fokus mereka ke wilayah-wilayah dengan pertumbuhan tinggi dan potensi keuntungan yang lebih besar. Namun, transisi ini tidaklah murah dan membutuhkan pengorbanan finansial yang sangat besar.

Biaya Fantastis Rp 5,3 Triliun: Mengapa Begitu Mahal?